Jamu, Herbal Nusantara Yang Diakui Dunia


Gambar: Ilustrasi Sejarah Peerkembangan Jamu

Sumber: https://indonesiaterhubung.id/artikel/413/herbal-nusantara-warisan-budaya-yang-diakui-dunia


            Sebuah artikel online yang ditulis oleh Nurfina Fitri Melina berjudul “Herbal Nusantara, Warisan Budaya yang Diakui Dunia”, membuat penulis sadar bahwa negeri kita ini sangat kaya. Bagaimana tidak, negeri kita yang dulu disebut dengan nama Nusantara memiliki kekayaan alam yang sangan luar biasa, bahkan bangsa lain mau jauh-jauh datang ke negeri kita hanya untuk mencarinya. Mereka menyebutnya sebagai emas hijau (dalam bahasa ekonomis). Emas hijau ini, dalam bahasa umum, lebih dikenal dengan sebutan rempah-rempah.

            Penulis sendiri masih belum tahu sejak kapan masyarakat di negeri ini mulai meminum jamu sebagai minuman herbal untuk kesehatan tubuh. Namun menurut artikel yang telah penulis baca di atas, dituliskan bahwa masyarakat di negeri ini, khususnya masyarakat Jawa, sudah mulai mengonsumsi jamu sejak 1200 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah relief di Candi Borobudur yang menggambarkan masyarakat sudah mengonsumsi ramuan tradisional untuk kesehatan tubuh. Penemuan artefak berupa cobek dan ulekan (alat yang digunakan untuk membuat jamu) yang saat ini dapat kita lihat di situs arkeologi Liyangan yang berlokasi di lereng gunung Sindoro, Jawa Tengah, juga menjadi bukti penguat bahwa masyarakat negeri ini telah mengonsumsi jamu sejak zaman Kerajaan Mataram.

            Mengutip dari artikel yang penulis baca di atas, seiring dengan berjalannya waktu, ketenaran ramuan trdisional Nusantara ini sempat mengalami penurunan karena masuknya ilmu medis modern. Namun pada saat penjajahan Jepang, lebih tepatnya pada tahun 1940-an, popularitas racikan tanaman herbal Nusantara ini kembali meningkat. Terlebih lagi dibentuknya Komite Jamu Indonesia. Pada tahun 1974 sampai 1990, berbagai perusahaan jamu mulai banyak berdiri dan terus berkembang. Diadakannya pembinaan-pembinaan dan pemberian bantuan dari pemerintah membuat industri jamu dapat meningkatkan aktivitas produksi mereka (situs Indonesia.co.id). Pada tahun 1976, Indonesia mendapat kesempatan untuk turut serta dalam Pameran Obat-Obatan dan Peralatan Medis yang digelar di Berlin, Jerman. Pada tahun itu, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mewakili Asia.

            Mengutip dari artikel yang penulis baca di atas, Drs. R Bambang Sutrisno yang kala itu menjabat sebagai Direktorat Pengawasan Obat Tradisional Ditjen POM Depkesmengatakan tanaman obat tradisional dan jamu Indonesia mendapatkan perhatian yang cukup besar. Bahkan, permintaan jamu racikan dan jamu berwadah kapsul semakin meningkat (berita harian Kompas pada 1 Juli 1976). Kini, jamu masih diminati oleh masyarakat Indonesia. Dengan berkembangnya teknologi, para pegiat industry herbal pun melakukan transformai dengan mengolahnya menjadi produk sachetan. Tidak hanya sampai disitu, untuk untuk mendorong pemanfaatan jamu secara lebih luas, pada tahun 2015 kementrian Kesehatan telah mencanangkan Gerakan Nasional Bugar dengan Jamu (disingkat Gernas Bude Jamu) yang hingga saat ini masih digaungkan.

Sumber:

https://indonesiaterhubung.id/artikel/413/herbal-nusantara-warisan-budaya-yang-diakui-dunia

 


Comments

Popular Posts