Tugas Keempat Tantangan Menulis 41 Hari
Budi Darma
(Sastrawan Tanpa Strategi)
Budi Darma lahir di Rembang, Jawa
Tengah, 25 April 1937; umur 80 tahun adalah guru besar di FPBS Universitas
Negeri Surabaya (dulu IKIP Surabaya). Beliau anak keempat dari enam bersaudara
yang kesemuanya laki-laki. Kedua orang tuanya berasal dari Rembang. Ayahnya
bernama Munandar Darmowidagdo dan bekerja sebagai pegawai kantor pos. Ibunya
bernama Sri Kunmaryati. Karena penugasan tempat tugas sang ayah selalu
berpindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lainnya. Dengan demikian,
semua keluarga turut berpindah, antara lain di Bandung, Yogyakarta, dan
Semarang.
Lelaki
yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut tutur bahasa ini pernah mengakui
“….saya menulis tanpa rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat
disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan
strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada
obsesi.”
Dari
pernyataan beliau di atas dapat terlihat bahwa Budi Darma adalah orang yang
menulis sesuai kehendak hati. Jika ada hal menarik yang membuat dirinya
tertarik, maka beliau akan menulisnya menjadi sebuah mahakarya yang sangat
sedap dibaca.
Budi
Darma memulai penulisannya pada tahun 1969 walaupun sebelumnya sudah pernah
menulis. Selain menulis dengan bahasa Indonesia, beliau juga menulis dengan
bahasa Inggris meskipun beliau mengaku sudah tidak menyimpan dokumennya.
Beberapa cerita pendeknya yang berbahasa Inggris dimuat di berbagai media massa
yang terbit di Indiana, Bloomington, Amerika Serikat. Tulisan Budi Darma tersebar
di berbagai majalah, antara lain 1. Budaja (Yogyakarta), 2. Basis (Yogyakarta),
3. Contact (Yogyakarta), 4. Gama (Yogyakarta), 5. Gadjah Mada (Yogyakarta), 6.
Gama Mahasiswa (Yogyakarta), 7. Indonesia (Jakarta), 8. Roman (Jakarta), 9.
Tjerita (Jakarta), 10. Forum (Jakarta), Gelora (Surabaya), 11. Surat Kabar
Minggu Pagi (Yogyakarta), 12. Berita Nasional (Yogyakarta), 13. Tanah Air
(Semarang), 14. Kontak (Surabaya), 15. Djawa Post (Surabaya). Disamping itu,
beliau juga pernah mengisi siaran mengenai sastra dan budaya di RRI (Semarang,
Yogyakarta, dan Surabaya) dan TVRI (Surabaya).
Beliau sudah
banyak membuat banyak karya, bahkan sudah ada beberapa karyanya yang sudah
diterbitkan. Karyanya yang berupa novel dan sudah diterbitkan adalah 1. Olenka
(1983), 2. Ny. Talis (1996), dan 3. Rafilus (1988). Kumpulan cerita pendeknya
yang sudah dibukukan adalah Orang-Orang Bloomington (1980). Selain itu, ada karyanya
yang berbentuk esai juga sudah diterbitkan, yaitu 1. Solilokui (1983), 2.
Sejumlah Esai Sastra (1984), 3. Harmonium (1996), dan 4. Foto Dan Senggring
(2005).
Budi
Darma juga pernah menerjemahkan The Legacy karya Intsi V. Himanyunga (1996,
Yayasan Obor). Beliau juga menulis karya nonsastra, yaitu Sejarah 10 November
1945 (terbit tahun 1987, Pemda Jatim), Curture In Surabaya terbit tahun 1992,
IKIP Surabaya), Modern Literature Of ASEAN (Editor kepala, 2000), dan Kumpulan
Esai Sastra ASEAN (Asean committee on culture And Information). Beberapa karya
Budi Darma yang berbentuk cerita pendek pernah bertransformasi dalam sebuah
drama, yaitu 1. Orez (diperankan mahasiswa ISI Yogyakarta) dan 2. Kritikus
Adinan (diperankan mahasiswa STSI Bandung).
Novelnya
yang berjudul Olenka memperoleh hadiah pertama Sayembara Mengarang Naskah Roman
Kesenian Jakarta pada tahun 1980. Novel itu juga mendapat penghargaan dari
Dewan Kesenian Jakarta sebagai novel terbaik tahun 1983. Novel ini juga
mendapat penghargaan dari S.E.A. Write Award. Penghargaan itu diserahkan kepada
penulis sastrawan di kawasan Asia Tenggara.
Beliau
mengatakan bahwa dalam menulis novel Olenka itu beliau hanya memerlukan waktu
tiga minggu. Meski dibuat dengan waktu yang singkat, novel tersebut dibuat
dengan penuh kerja keras. Setiap hari beliau lembur untuk mengerjakannya.
Olenka
dikerjakan beliau saat di sela-sela disertasi di Indiana University. Lamanya
jeda revisi disertasi membuat beliau menjadi jenuh. Sebelum kejenuhan merambat
hebat, beliau memutuskan untuk mengurung diri di apartemennya. Beliau mulai
menulis beberapa kata menjadi beberapa bab.
Proses
pembuatan Olenka terbilang begitu unik. Selama berdiam diri di kamar untuk
menulis, beliau menyempatkan untuk membaca Koran lokal. Dari bacaan Koran tersebut,
beliau membuat plot-plot yang beliau bisa jadiakan sebagai cerita. Jadilah
novel Olenka yang tak biasa. Di beberapa halaman novel tersebut, beliau
sisipkan potongan Koran yang menjadi referensi dalam menulis.
Pada
tahun 1984, beliau mendapatkan penghargaan dari Sea Write Award dari Thailand
atas karyanya yang berjudul Orang-Orang Bloomington. Anugrah Seni beliau
peroleh dari pemerintah Indonesia pada tahun 1993. Budi Darma tercatat sebagai
anggota Modern Language Association (MLA), New York, 1977-1990. Tahun
1982/1983, namanya tercatat dalam buku Who’s Who In The World.
Kegiatan
Budi Darma sebagai cerpenis tampaknya masih berlangsung hingga tahun 1990-an.
Berepata cerita pendeknya mendapat penghargaan dari Kompas dalam beberapa kali
penerbitan cerita pendek Kompas terbaik. Cerpen beliau yang berjudul “Derabat”
menjadi judul buku kumpulan cerita pendek terbaik Kompas tahun 1999. Sejak saat
itu, Budi Darma menyandang sebutan penulis cerita pendek yang setia hingga usia
senja.
Sumber Rujukan:
Comments
Post a Comment