Sebelum mengenal Tulisan

            Hallo adik-adik dan teman-teman sekalian! Assalamualikum wr,wb. Selamat pagi, siang, sore, malam untuk kalian yang sedang lihat video ini dimanapun, kapanpun, dan dalam situasi apapun. Oke adik-adik dan temen-temen sekalian, ada yang tahu gambar apa yang aku gunakan sebagai background di belakang? Jika jawaban kalian ini adalah gambar kehidupan manusia purba, maka aku akan tanya sekali lagi, kehidupan manusia purba pada zaman apakah ini? Jika jawaban kalian adalah kehidupan manusia purba zaman prasejarah atau praaksara, atau nirleka atau zaman sebelum manusia mengenal tulisan, maka jawaban kalian benar sekali.

            Jadi, isi video kali ini akan membahas mengenai Sebelum Mengenal Tulisan atau Prasejarah atau Praaksara, atau Nirleka. Sebelumnya aku mau mengingatkan bahwa isi dari video ini aku ambil dari situs-situs di internet. Jadi, aku mohon maaf sekali bila aku tidak mencantumkan alamat situs-situs tersebut. Jadi, apa itu Prasejarah? Praaksara? Dan Nirleka? Untuk mengetahuinya, kita mulai dulu dari asal usul kata “Prasejarah” terlebih dahulu.

Kata sejarah itu bisa berasal dari bahasa Yunani, yaitu Historia, yang artinya adalah penyelidikan atau pengetahuan yang didapatkan dari penelitian yang mendalam. Bisa juga dari bahasa Arab, yaitu Syajarotun, yang berarti pohon kayu yang bercabang. Menunjukkan bahwa sejarah berkembang dari satu titik ke titik kejadian lainnya yang saling berhubungan. Sedangkan gagasan Prasejarah mulai mengemuka pada Abad Pencerahan dalam karya-karya ahli purbakala yang memakai kata “primitif” untuk menyifatkan masyarakat-masyarakat yang sudah mewujud sebelum munculnya rekam sejarah. Prasejarawan Prancis bernama Paul Tournal merupakan orang pertama yang mencetuskan istilah “Pre-Historique” untuk mensifatkan temuan-temuannya di gua-gua kawasan selatan Prancis. Istilah ini dimasukkan dalam kosakata bahasa Prancis pada tahun 1830 sebagai sebutan bagi kurun waktu sebelum sistem tulisan diciptakan, dan kemudian diserap ke dalam kata “prehistorie” dalam bahasa Belanda. Kata “Prasejarah” adalah terjemahan harfiah dari “prehistorie”.

Dari sini, kalian sudah paham dari mana asal usul kata “Prasejarah” yang selama ini kita kenal? Nah, seiring berjalannya waktu, para ahli mulai beranggapan bahwa penggunaan “Prasejarah” untuk menggambarkan kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan ini kurang tepat. Karena, jika kita telusuri secara etimologi, (aku tidak bisa menemukan kata-kata selain kata etimologi. Jadi mohon maaf bila ada yang tidak paham apa itu etimologi) kata “Prasejarah” berasal dari dua kata, yaitu Pra dan Sejarah. Pra yang artinya sebelum dan Sejarah yang artinya peristiwa yang tejadi pada masa lalu yang berhubungan dengan aktivitas dan perilaku manusia. Dengan kata lain, arti kata prasejarah adalah sebelum adanya sejarah. Sebelum ada sejarah berarti sebelum ada aktivitas kegiatan manusia. Namun dalam kenyataannya, manusia yang belum mengenal tulisan telah memiliki kebudayaan. Dengan kata lain, telah memiliki sejarah. Oleh sebab itu, penggunaan kata “Prasejarah” menjadi kurang tepat untuk digunakan. Akhirnya, para ahli mempopulerkan kata “Praaksara” untuk menggantikan istilah “Prasejarah.

Lalu, apa itu Praaksara? Praaskara berasal dari dua kata, yaitu Pra dan Aksara. Pra artinya sebelum dan Aksara yang artinya tulisan. Dengan kata lain, Praaksara berarti sebelum mengenal tulisan. Inilah istilah yang tepat untuk menggambarkan kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan. Sehingga untuk selanjutya, aku akan sering menggunakan kata Praaksara untuk menggambarkan zaman dimana manusia belum mengenal tulisan. Oke, disamping itu adik-adik dan temen-temen sekalian, ada istilah lain yang hampir mirip dengan istilah Praaksara ini, yaitu Nirleka. Nirleka berasal dari dua kata,yaitu Nir dan Leka. Nir artinya tanpa dan Leka artinya tulisan. Dengan kata lain Nirleka berarti tanpa adanya tulisan (ini bener gak ya artinya Nirleka. Takut menyesatkan). Nah, karena pada masa ini manusia belum mengenal tulisan, maka untuk mengenal sejarah dan hasil kebudayaan manusia adalah dengan melihat beberapa sisa peninggalan yang bisa kita temukan, seperti fosil dan artefak. Dengan meneliti fosil dan artefak yang telah ditinggalkan oleh manusia purba, maka kita dapat menjawab pertanyaan kapan masa Praaksara dimulai? Kapan masa Praaksara ini berakhir? Seperti apa kehidupan manusia purba pada masa Praaksara?

Nah, sebelum membahas lebih lanjut, aku mau bertanya nih ke kalian lagi. Ada yang tahu apa itu Atlantis? Pasti sudah tahu semua dong? Atlantis adalah sebuah pulau legendaris yang pertama kali disebutkan oleh Plato dalam bukunya yang berjudul Timaeus dan Critias. Selama bertahun-tahun, para peneliti telah melakukan penelitian untuk mencari keberadaan dari pulau legendaris Atlantis ini. Salah satunya adalah Prof. DR. Arysio Santos yang membuat buku berjudul Atlantis The Lost Continent Finally Found. Atlantis The Lost Continent Finally Found adalah sebuah buku praaksara terdiri dari empat bagian dan 16 bab yang ditulis oleh Prof. Arysio Nunes, dos Santos, Ph.D (Uh, mudah-mudahan gak salah aku menyebutkan nama serta buku beliau). Beliau adalah fisikawan nuklir dan ahli geologi mengenai realitas Atlantis sejak diungkapkan oleh filsuf besar Plato dalam dua setengah millennium lalu dengan membandingkan serta membantah secara ilmiah mungkin untuk pertama kalinya berbagai teori lokasi Atlantis. Beliau menerangkan sebuah teori yang menempatkan secara definitif bahwa Atlantis itu berada di wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei.

Menurut Profesor Santos, pertama kali ras manusia muncul di Afrika, sebab disinalah fosil manusia purba tertua ditemukan. Pada zaman itu, daerah Afrika dan sekitarnya kurang memadai untuk kelangsungan hidup, pengembangan diri, dan penataan masyarakat. Terutama pada Zaman Es, hampir seluruh dataran bumi tertutup oleh es. Padahal, salah satu syarat terbangunnya peradaban adalah sebuah tempat dimana manusia bisa hidup dengan tenang, tidak berpindah-pindah, dan tidak menghabiskan waktu untuk bertahan hidup, seperti mencari makanan atau berburu. Maka, mereka berpindah ke daerah “Garis Khatulistiwa” yang beriklim tropis, yaitu di Indonesia yang lebih subur dan mulai membuat peradaban.

Saat itu, Indonesia dan daerah lain di sekitarnya merupakan satu daratan luas sehingga pantas disebut sebagai benua. Sebelum tenggelam ke dasar Samudra Pasifik, daratan Atlantis mencangkup Benua Australia, Indonesia, Semenanjung Melayu, bahkan India. Dari sini, peradaban manusia pertama kali muncul, yaitu Atlantis Lemuria atau Ibu Peradaban. Tetapi, peradaban itu hancur karena Gunung Toba Purba meletus dengan dahsyat, sehingga menyebabkan banjir besar dan bila ditilik dari segi mitologi, hampir semua bangsa atau suku memiliki cerita rakyat mengenai banjir besar dengan versinya masing-masing.

Buku ini adalah tendangan manis berbuah gol bagi orang-orang yang tidak sependapat dengan Teori Darwin mengenai Evolusi. Terutama mengenai pembahasan Profesor Santos mengenai manusia raksasa dan manusia kerdil dengan segala jenisnya, seperti Homo Sapiens, Cro Magnom, Homo Floriensis dan lain-lain. Mungkin, kalau mereka dapat disebut sebagai manusia dengan sifat-sifat seperti kita sekarang, pada zaman dahulu, ada berbagai “macam jenis manusia” dengan ciri fisik dan kemampuan yang berbeda. Profesor Santos berjasa dalam menjelaskan keberadaan dan punahnya dari muka bumi.

Mereka terbukti seperti fosil-fosil yang ditemukan di banyak di sudut muka bumi. Memang “pernah ada”, tetapi mereka tidak berevolusi menjadi diri kita sekarang. “Kita” bukan keturunan “Manusia Kera”. Mereka menghilang dari muka bumi karena bencana, karena ketahanan fisik, dan daya tahan. Bisa jadi ada sesuatu yang membedakan kita dengan nenek moyang kita, misalnya tinggi badan. Mungkin ada yang pernah mendengar bahwa tinggi Nabi Nuh adalah 30 meter? Yang kalaupun itu benar menurutku itu adalah sebuah evolusi untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini berbeda jauh dari dan dengan teori evolusi manusia yang dikemukakan oleh Darwin.

Buku ini akan lebih memikat bila kita memahami mitologi-mitologi dunia, terutama Yunani, Geologi, Antropologi, dan Arkeologi, sebab Profesor Santos bergerak pada bidang-bidang tersebut. Hal yang membuat aku sedikit terkejut sebagai orang yang tidak menekuni bidang-bidang tersebut adalah betapa kuatnya penggunaan tela’ah mitologi dunia yang digunakan oleh Profesor Santos dalam melakukan penelitiannya. Padahal selama ini aku sendiri terkadang beranggapan bahwa mitologi atau legenda atau cerita rakyat hanya bisa bermanfaat pada ranah sastra. Aku tidak menyangka bahwa penelitian ilmiah juga bisa menggunakan mitologi atau legenda yang terkesan hanya khayalan atau tahayul. Padahal disana tersembunyi kode-kode atau pesan-pesan rahasia dari nenek moyang yang dicoba untuk diwariskan pada generasi berikutnya. Sungguh sangat disayangkan bahwa Profesor Santos sangat sedikit menggunakan mitologi Indonesia. Padahal hasil akhir dari penelitiannya adalah bahwa Atlantis berada di Indonesia.

Kalau kalian pernah melihat tayang salah satu TV swasta di Indonesia tentang Solomon dan Saba atau Sulaiman dan Ratu Saba, mungkin kalian akan bernasip sama seperti aku yang terkaget-kaget karena aku yang selama ini melihat dari sudut pandang yang berbeda dari tayangan itu, mereka jauh berbeda dengan apa yang selama ini aku bayangkan. Kisah Solomon dan Saba begitu “vulgar” jauh dari nilai suci dan agung yang selama ini aku dapati. Begitu juga ketika kita membaca komik peradaban yang didalamnya ada kisah mengenai David atau Daud, Alexander the Great atau Iskandar Zulkarnain, dan sebagainya. Tetapi, inilah perbedaan yang harusnya kita ketahui dan kita tanggapi dengan bijak. Tidak serta merta kita menindaklanjuti dengan sikap ekstrim. Lingkungan dan apa yang kita baca memengaruhi sudut pandang dan pengetahuan kita bukan? Dan bukan rahasia kalau beberapa umat yang mengenal beberapa Nabi yang sama memiliki pandangan yang berbeda bagai bumi dan langit terhadap sosok-sosok tersebut.

Melalui buku ini, Profesor Santos mengajak kita mengarungi pemikiran bangsa dan umat lain tentang Musa, tentang Solomon, tentang Iskandar Zulkarnain. Harap dicatat disini, Profesor Santos adalah orang Brazil yang secara pribadi dan lingkunga tidak akrab dengan kita yang tinggal di Indonesia. Inilah salah satu yang kurang dari buku ini. Jelas saja Profesor Santos banyak meninjau dari tradisi Hindu dan mitos Yunani-Romawi. Mengetahui tradisi Hindu adalah keniscayaan bagi para peneliti arkeologi manapun. Sedangkan mitos-mitos Yunani dan Romawi merupakan sesuatu yang akrab di telinga orang di belahan barat dan mesti dikaji dalam kaitannya Atlantis karena Plato merupakan orang Yunani.

Jadi, bagi kalian yang menemukan hal-hal yang menurut kalian tidak sesuai dengan apa yang kalian yakini, berpikirlah out of the box. Karena secara pribadi yang aku alami setelah membaca buku ini, apa yang diuraikan oleh buku ini malah menguatkan keyakinan beragamaku tanpa menghilangkan kepercayaanku akan keabsahan dan validitas penelitian Profesor Santos. Terlepas dari benar tidaknya Atlantis berada di Indonesia, mungkin inilah saatnya kita bangsa Indonesia bangun dari tidur panjang dan mulai menelusuri sejarah kita yang sebenarnya, menghargai budaya kita yang sesungguhnya, membedah apa yang berada di dalam kode genetik kita yang diwariskan oleh para leluhur. Supaya lebih memahami kelebihan dan kelemahan kita, memetik pelajaran dari sejarah masa lalu, kemudian melangkah mantap menuju masa depan. Bagaimana? Apakah kalian percaya bahwa Atlantis ada di Indonesia? Komen di bawah.

Tunggu sebentar, apakah penjelasan di atas terlalu berat untuk kalian para adik-adik sekalian? Mohon maaf ya, habis aku kebawa suasana tadi dan gak sadar kalau sudah menjelaskan sebanyak itu. Sebenarnya inti dari penjelasan di atas adalah untuk memberikan penjelasan kepada kalian konsep berpikir sinkronis, diakronis, ruang dan waktu dalam sejarah agar kalian dapat dengan mudah untuk memahami pembabakan dan cerita dalam sejarah. Oke, karena sudah terlanjur aku sebutkan, lebih baik aku beritahu saja ya apa itu berpikir sinkronis, diakronis, ruang dan waktu dalam sejarah.

Baiklah, mari kita bahas bersama-sama. Jika kita membahas mengenai sejarah, maka kita juga membahas mengenai ruang dan waktu. Ruang adalah tempat dan waktu adalah masa atau zaman. Ruang dan waktu di dalam sejarah tidak dapat dipisakan. Mereka saling terkait dan berkesinambungan satu sama lainnya. Untuk dapat lebih mempelajari sejarah, muncullah konsep berpikir diakronis dan sinkronis di dalam sejarah.

Menurut Galtung, diakronis berasal dari dua bahasa Latin, yaitu Dia dan Chronos. Dia berarti melalui atau melampaui dan Chronos berarti waktu. Dengan kata lain Diakronis artinya memanjang dalam waktu dan menyempit dalam ruang. Sedangkan sinkronis berasal dari dua kata Latin, yaitu Syn dan Chronos. Syn berarti dengan dan Chronos berarti waktu. Dengan demikian, maka Sinkronis berarti meluas dalam ruang dan menyempit dalam waktu.

Dalam konsep berpikir sejarah, diakronis memiliki makna terhadap suatu peristiwa dengan cara penelusuran di masa lalu. Setiap peristiwa yang terjadi di masa kini pasti dibarengi dengan peristiwa sebelumnya yang kita kenal dengan sifat sebab-akibat. Bila kalian pernah mendengar pepatah mengatakan tidak ada asap kalau tidak ada api, itu adalah konsep berpikir diakronis dalam sejarah. Tidak ada sebab kalau tidak ada akibat. Tidak ada akibat kalau tidak ada sebab. Dengan kata lain konsep berpikir diakronis dalam sejarah sangat mementingkan proses terjadinya suatu peristiwa. Dengan kata lain pola berpikir diakronis sangat mementingkan proses terjadinya suatu peristiwa. Melalui pendekatan diakronis, para sejarawan mencoba untuk menganalisis dampak dari perubahan pada sesuatu hingga memungkinkan penyebab suatu peristiwa yang lahir dari peristiwa sebelumnya. Sebagai contoh,peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi akibat dari perlawanan bangsa Indonesia dalam melawan penjajah.

Sedangkan konsep berpikir sinkronis adalah memahami sebuah peristiwa dengan mengabaikan aspek perkembangannya dan lebih memperluas ruang di dalam peristiwa tersebut. Dikutip dari situs Kemendikbud, pendekatan sinkronis biasa digunakan dalam ilmu sosial, termasuk sejarah karena sejarah tidak hanya membahas mengenai suatu peristiwa, tetapi juga membahas mengenai aspek agama, politik, ekonomi, sosial, dan budaya di suatu tempat. Oleh sebab itu, sejarah memerlukan ilmu bantu lain untuk dapat menganalisis suatu peristiwa. Sebagai contoh, Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Dari peristiwa tersebut, kita dapat menguraikan berbagai aspek seperti aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, dan hubungan internasional yang terjadi di dalamnya.

Dari sini apa kalian paham? Jadi, konsep berpikir sinkronis, diakronis, ruang dan waktu dalam sejarah itu penting agar kita dapat lebih memahami dan memperdalam ilmu sejarah. Begitu pula dengan Zaman Praaksara ini. Tadi, aku sempat menyinggung beberapa pertanyaan mengenai Zaman Praaksara ini. Kapan awal dari Zaman Praaksara? Kapan berakhirnya Zaman Praaksara? Dan Seperti apa kehidupan manusia purba pada Zaman Praaksara? Nah, disini kita harus mulai berpikir secara sinkronis dan diakronis.

Oke, kita bahas bersama-sama. Kapan Zaman Praaksara dimulai? Zaman Praaksara dimulai tentu saja sejak manusia muncul di bumi. Namun para ahli belum dapat memastikan tepatnya kapan Zaman Praaksara ini dimulai karena sampai sekarang para ahli belum dapat memastikan kapan manusia mulai mendiami bumi ini. Yang jelas, fosil manusia purba tertua di dunia itu ditemukan di Afrika sana.

Bagaimana cara kita mengetahui aktivitas atau kebudayaan manusia purba Zaman Praaksara? Untuk mengetahui kegiatan pada Zaman Praaksara, para sejarawan menggunakan ilmu bantu lainnya, seperti ilmu arkeologi dan ilmu alam atau ilmu sains seperti geologi dan biologi. Ilmu arkeologi adalah bidang ilmu yang mengkaji bukti-bukti atau jejak peninggalan fisik dari manusia di masa lalu, seperti lempeng artefak, monument, candi, dan sebagainya. Berikutnya meggunakan ilmu geologi dan percabangannya, terutama yang berkaitan dengan usia lapisan bumi. Ilmu geologi sendiri adalah ilmu sains yang mempelajari bumi, komposisinya, strukturmya, sifat-sifat fisiknya, dan proses pembentukannya. Sedangkan penggunaan ilmu biologi berkenaan dengan kajian tentang ragam hayati makhluk hidup.

Kapan Zaman Praaksara berakhir? Sudah pasti masa Praaksara ini berakhir ketika manusia di bumi ini sudah mengenal sistem tulisan. Terkait dengan masa berakhirnya Zaman Praaksara di masing-masing tempat akan berbeda. Hal ini tergantung dari kapan manusia yang tinggal di suatu tempat telah menggunakan sistem tulisan dengan bukti ditemukan artefak yang didalamnya terdapat tulisan atau aksara, seperti prasasti, buku, kitab, dan lain sebagainya. Penduduk di Kepulauan Indonesia baru memasuki masa aksara sekita abad ke 5 Masehi. Hal ini jauh lebih terlambat bila dibandingkan di tempat lain, misalnya Mesir dan Mesopotamia yang sudah mengenal tulian sejak sekitar tahun 3000 Sebelum Masehi. Fakta-fakta yang menunjukkan bahwa masyarakat di Kepulauan Indonesia telah mengenal tulisan dihubungkan dengan temuan prasasti dari Kerajaan Kutai Kartanegara di Muara Kaman Kalimantan Timur. Jadi, bila ditemukan prasasti yang lebih tua daripada prasasti dari Kerajaan Kutai ini, maka hal itu akan menjadi acuan terbaru kapan Indonesia mengakhiri masa Praaksaranya.

Mungkin diantara kalian ada yang berpikir kenapa sih kita kok harus belajar Zaman Praaksara? Padahal, Zaman Praaksara kan sudah terlampau jauh dari kehidupan kita. Bahkan orang yang ahli atau para sejarawan aja susah untuk menguraikannya. Gimana dengan kita yang orang awam? Eh, merepotkan. Eit, tunggu dulu bosku. Bila kalian memiliki pemikiran seperti itu, mending kalian pahami lagi deh video aku yang judulnya Mengapa Harus Belajar Sejarah? Atau pamahi lagi arti kata Syajarotun yang tadi sempat aku singgung. Apa tadi arti kata Syajarotun? Syajarotun berarti pohon kayu yang bercabang. Menunjukkan bahwa sejarah berkembang dari satu titik ke titik kejadian lainnya yang saling berhubungan. Oke, aku ambil contoh kehidupan biologis kita. Jadi, sebelum kita lahir, pasti ada ayah dan ibu kita. Sebelum ayah dan ibu kita lahir, pasti ada kakek dan nenek kita. Sebelum kakek dan nenek kita lahir pasti ada…., apa ya? Cicit eh? Buyut? Pokoknya itulah. Dan sebelumnya. Dan sebelum, sebelum, sebelumnya. Dan sebelum belum belum sebelumnya. Ada manusia yang disebut manusia purba yang sekarang tubuhnya mem-fosil menjadi batu. Mereka meninggalkan sebuah warisan yang lebih berharga daripada sebuah harta, tahta, wanita, yaitu sebuah pengalaman. Sebuah pengalaman hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi dengan bukti berupa penemuan artefak-artefak yang ditemukan di setiap sudut bumi ini. Inilah yang harusnya kita pahami dalam sejarah adik-adik dan temen-temen sekalian.

Tadi aku juga sempat menyinggung bahwa sejarah itu tidak hanya belajar mengenai suatu perisiwa tertentu, tempat dan tanggal tertentu, atau nama-nama tokoh penting tertentu, tetapi juga segala macam aspek yang berada didalamnya. Salah satunya adalah kegiatan atau kehidupan manusia pada waktu tertentu atau peristiwa tertentu. Nah, mengenai kehidupan manusia Zaman Praaksara nih. Kita patut bersyukur karena kita hidup pada zaman yang serba modern seperti sekarang. Kita punya HP, punya laptop, punya TV, yang bisa kita manfaatkan untuk mencari informasi, mencari ilmu, mencari hiburan, dengan sangat cepat. Kita juga harusnya beryukur karena masi bisa bersekolah, walaupun sekarang lagi Covid-19 sih. Sekolahnya jadi online. Ada guru yang mau berbagi ilmunya. Mengajari kalian belajar baca-tulis-hitung. Serta yang paling penting, guru dapat memberikan pembelajaran moral kepada murid-muridnya. Itu yang terpenting. Tersinggung-tersinggung dah.

Coba kalian bayangkan bila kalian hidup di Zaman praaksara. Gak ada PUPG, gak ada Free Fire, gak ada Mobile Lagoon buat hiburan. Gak ada youtube dan google buat sharing informasi sama hiburan. Belajarpun mereka otodidak. Belajar dari alam. Belajar dari pengalaman. Terkandang itu terjadi human error. Terkadanag mereka melakukan trial and error. Gagal coba lagi. Gagal lagi coba lagi. Gagal lagi bikin lagi. Gagal lagi bikin lagi. Sampai pada akhirnya mereka menemukan sebuah artefak yang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Inilah yang menyebabkan Zaman Praaksara menajdi masa yang sangat panjang. Pengalaan hidup inilah yang harusnya dipahami dalam belajar sejarah.

Kehidupan pada masa praaksara seperti yang aku terangkan tadi masih bisa kita jumpai di Indonesia. Kita dapat melihat kehidupan praaksara dari orang-orang terasing dan terpencil di Indonesia. Namun, ada cerita inspiratif mengenai hal ini. Saur Marlina Manurung atau biasa dipanggil Butet Manurung adalah perintis dan pelaku pendidikan alternatif bagi masyarakat terasing dan terpencil di Indonesia. Dalam dunia pendidikan, jasanya sangat luar biasa karena berhasil mendirikan sebuah sekolah pertama yang diterapkan untuk masyarakat Orang Rimba atau Suku Kubu di Taman Nasional Bukit Duabelas di Jambi. Metode yag beliau terapkan adalah setengah antropologis. Pengajaran membaca, menulis, dan berhitung, dilakukan sambil tinggal bersama masyarakat didiknya selama beberapa bulan. Sistem ini dikombinasikan dengan mempertimbangkan pola kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Setelah tersusun secara sistematis, beliau mengembangkan sistem Sokola Rimba, diambil dari bahasa yang digunakan Orang Rimba, salah satu dialeg Melayu. Sistem Sokola Rimba kemudian diterapkan pula diberbagai tempat terpencil lainnya di Indonesia, seperti di Halmahera dan Flores.

Pada awal tahun 2000-an, nama Saur Marlina Manurug atau bisa disapa Butet Manurung tidak dikenal. Terang saja, wanita kelahiran Jakarta ini memang tidak bekerja di kota besar dan mudah mendapat publikasi. Beliau mulai menerapkan dan mengembangkan karier di bidang pendidikan di pedalaman Jambi. Beliau mengajarkan baca-tulis hitung pada Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas. Kini, namanya sudah terkenal sebagai salah satu perintis pendidikan di pedalaman Indonesia. Dedikasinya untuk dunia pendidikan suku pedalaman diakui di dalam maupun di luar negeri.

Saur Marlina muda bukanlah gadis yang terbiasa hidup di lingkungan yang dekat dengan alam. Wanita yang kini berusia 46 tahun adalah anak kota yang menghabiskan masa kecilnya di Jakarta dan sempat merasakan tinggal di Leuven, Belgia. Namun kecintaannya terhadap alam diam-diam tumbuh dalam hati. Selepas lulus dari masa SMA, Beliau mengambil dua jurusan, yaitu Antropologi dan Sastra Indonesia di Universitas Padjadjaran, Bandung. Menurut catatan vemale, disela-sela kesibukannya berkuliah, beliau masih sempat mengajarkan mengenai organ dan matematika. Uang hasil keringatnya dikumpukan untuk ongkos naik gunung.

Selain memiliki rasa cinta terhadap alam yang begitu tinggi, Butet Manurung juga mempunyai kepedulian besar terhadap pendidikan untuk masyarakat di pedalaman Indonesia. Hal ini muncul ketika beliau melakukan perjalanan dan melihat sendiri suku pedalaman yang dianggap kurang pintar, miskin dan primif, sehingga sering ditipu. Butet Manurung merasa harus melakuka sesuatu untuk mereka. Setelah selesai menyelesaikan kuliahnya, Butet Manurung langsung memilih pekerjaan yang berhubungan dengan alam, yaitu sebagai pemandu wisata di Taman Nasional Ujung Kulon. Namun, pekerjaan ini tidak memuaskannya. Beliau merasa jenuh sampai akhirnya menemukan iklan lowongan kerja sebagai fasilitator pengajar di pedalaman bagi suku Jambi, Orang Rimba, Jambi dari Komunitas Konservasi Indonesia atau KKI, Warung Informasi Konservasi atau Warsi, LSM yang berkonsentrasi terhadap isu konservasi hutan di Sumatra. 

Butet Manurung bergabung dengan Warsi pada tahun 1999. Pada saat itu, Warsi sudah punya program pendidikan alternatif untuk Orang Rimba yang dirintis oleh guru rimba, yaitu Yusak Ardian Panca Pangeran Hutapea. Yusak memulai gerakannya untuk masuk dan mendekati Orang Rimba di Makekal Hulu dan Hilir, Jambi sejak pertengahan tahun 1998. Beliau menghadapi penolakan dari suku pedalaman karena pendidikan dianggap bukan budaya Orang Rimba dan akan membawa petaka. Namun akhirnya Yusak berhasil mendekati dan mengajar Orang Rimba. Sampai pada akhirnya, sekitar Maret 1999, Yusak meninggal karena Malaria.

Ketika Butet Manurung bergabung dengan Warsi, kegiatan belajar mengajar Orang Rimba telah berhenti selama 8 bulan. Butet Manurung diminta untuk menjadi penerus Yusak. Beliau memulai sekolah pertamanya di Bernai, Makekal Hilir, Jambi. Menurut catatan Warsi, awalnya murid Butet Manurung hanya berjumlah 3 orang. Beliau masih menghadapi penolakan dari suku pedalaman. Namun lama kelamaan, pendidikan berubah menjadi sebuah tren baru di kalangan anak muda Rimba. Kemampuan baca-tulis-hitung dianggap keahlian hebat setara dengan kemampuan berburu. Pada akhirnya kepala kelompok masyarakat memilih untuk bersikap menundukung kegiatan sekolah. Selama Butet Manurung menjadi guru rimba bersama Warsi, sekolah rimba mulai berkembang ke wilayah lain di Taman Nasional Bukit Duabelas. Para kader Warsi, yaitu murid-murid yang sudah mempu menulis, membaca, dan berhitung, membatu membuka akses ke wilayah lainnya yang belum mengenal pendidikan. Butet Manurung sendiri juga mencoba mengembangkan metode pengajaran dengan belajar sambil bermain sesuai adat budaya dan cara hidup Orang Rimba. Selain itu, pada tahun 2002, Warsi mendapatkan tenaga guru baru bernama Oceu Apristawijaya, seorang pelukis yang mengenalkan materi pengajaran dipadukan dengan materi menggambar. Setelah 4 tahun menjadi guru rimba, Butet Manurung mengundurkan diri dari Warsi pada tahun 2003. Beliau dan rekan-rekannya kemudian mendirikan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki perhatian khusus pada bidang pendidikan untuk orang suku terasing.

Berhenti dari Warsi bukan berarti Butet Manurung berhenti dari dunia pendidikan. Beliau dan kelima rekannya mendirikan Sokola Rimba pada tahun 2003 dengan selogan “Pendidikan untuk Masyarakat Adat”. Sokola Rimba pertama kali dimulai dari pedalaman hutan tropis Jambi. Mereka mencoba memberikan pendidikan kepada Anak Suku Dalam, Jambi. Setelah sukses dengan Sokola Rimba di Jambi, Butet Manurung membuka sejumah sekolah untuk suku-suku terasing di Indonesia, seperti Pulau Besar, Sikka, NTT, Suku Asmat di Papua, dan Suku Kajang di Sulawesi Selatan. Selain itu, beliau juga mengembangkan yayasan alternatif yang disebut Yayasan Sokola. Lembaga ini didirikan untuk komunitas adat lain di Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan. Butet Manurung tidak hanya memberikan pendidikan dasar kepada suku di pedalaman, tetapi juga memberikan advokasi. Beliau ingin masyarakat adat dapat mandiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Bagaimana? Apakah kalian terinspirasi dari kisah ini? Ya, aku berharap muncul Butet Manurung-Butet Manurung muda lainnya yang dapat memajukan kehidupan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat yang tertinggal.

Jadi kita sepatutnya lebih bersyukur. Apalagi saat-saat Covid-19 seperti ini. Bagi kalian yang sinyal wifinya kuat atau jaringan internetnya kuat. Punya HP yang yang bagus yang gak kentang. Listrik 24 jam nonstop. Kita patut bersyukur. Di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang gak ngerasain atau kurang merasakan nikmat ini. Ada yang sinyalnya buruk bahkan kalau buat buka google aja lemotnya minta ampun. Ada yang gak punya HP atau laptop yang bagus sehingga lemotnya minta ampun kalau digunakan buat nugas. Bahkan ada nih daerah yang penggunaan listriknya dibatasi, sehingga kalau penggunaan listriknya melebihi batas ketentuan, listriknya padam. Maka dari itu, kita harus terus bersyukur dalam menjalani hidup ini adik-adik dan temen-temen sekalian.

Oke, kesimpulan apa yang kalian dapat? Pertanyaan apa yang ingin kalian lontarkan? Saran dan kritik apa yang ingin kalian sampaikan? Tulis di kolom komentar. Jangan lupa Subcribe, like, dan share bila kalian suka serta tekan tanda loncengnya supaya kalian tahu kalau aku update video terbaru. Sampai jumpa lagi adik-adik dan temen-temen sekalian. Good Bye Babay. 


Sumber: 



Comments

Popular Posts