Kecanduan Dopamin Dari Tombol Like
Gambar:
Ilustrasi mengumpulkan like di media sosial
Sebuah
artikel online yang ditulis oleh Y. Edward Horas S berjudul “Candu Dopamin dari
Tombol Like”, membuat penulis berpikir dan bertanya-tanya sebegitu berbahanya
kah tombol like yang berada di sosial
media? Kalau boleh jujur, penulis adalah seorang kreator YouTube yang masih noob, yang masih harus banyak belajar
untuk dapat mengembangkan sebuah channel
YouTube. Namun, penulis sendiri masih bingung, apa sih pentingnya tombol like yang ada di sosial media?
Mengutip
dari artikel yang penulis baca di atas, bagi konter kreator, tombol like menjadi pusat perhatian. Dari hari
semenjak konten tersiar ke publik, beralih kepada hari-hari berikutnya, pertambahan
akan jumlah like pasti tidak pernah
lepas dari pantauan. Selalu dipantengi,
dan berguman dalam hati, “laku kagak karya gw?”. Oke, kalau boleh jujur, untuk
saat ini sebagai konten kreator, penulis sendiri masih belum memprhatikan like dan dislike yang ada di channel
YouTube penulis sendiri. Fokus penulis terdapat pada jam kerja dan Subscribe
penulis di channel YouTube penulis
karena masih awal. Bagi penulis, tombol like
dan dislike masih belum berpengaruh.
Kalau tombol share itu sangat
berpengaruh bagi penulis karena bagi penulis itu menunjukkan bahwa penikmat itu
suka dengan konten yang penulis buat di channel
YouTube penulis dan penikmat ini ingin membagi kesenangannya kepada teman,
saudara, atau kerabatnya. Sehingga, konten yang dibuat penulis itu menjadi viral. Lagipula bagi penulis, tombol like dan dislike adalah hak setiap penikmat di sosial media.
Lalu,
apa masalahnya? Mengutip dari artikel yang penulis baca di atas, hal ini karena
viral yang disebabkan like bisa mendatangkan banyak manfaat.
Mulai dari ketenaran, mempunyai banyak teman, dan terutama memperkaya
pundi-pundi bagi mereka. Disini, muncul sebuah pertanyaan di kepala penulis,
bukankah tombol like dan dislike itu hanya berfungsi sebagai
petunjuk bahwa penikmat suka atau tidak dengan karya yang kita buat? Lagipula,
ada tuh konten di YouTube sebelah yang dislike-nya
banyak tapi malah tenar atau viral.
Kalau boleh jujur bagi penulis sendiri yang membuat sebuah konten menjadi viral adalah banyaknya orang yang latah
atau men-share sebuah konten atau
karya seseorang.
Lalu,
apa hubungannya dengan dopamin? Mengutip dari artikel yang penulis baca di
atas, disaat inilah hormon dopamin yang dipicu dari pertambahan massal tombol like mulai diproduksi oleh tubuh. Hormon
dopamin adalah salah satu hormon kebahagiaan yang membuat kita senang dan
bahagia dalam menjalani kehidupan. Karena manfaat inilah, maka banyak orang
yang suka dengan banyaknya like,
bahkan sampai kecanduan. Kecanduan dopamin.
Lalu,
apa yang terjadi jika kita sudah kecanduan dopamin? Mengutipdari artikel di
atas, alih-alih mengembangkan kreatifitas dalam konten, perjuangan dalam
mencari like ini menjadi lebih
dipentingkan. “Yang penting viral” mungkin yang dipikirkan oleh mereka.
Mulailah terjadi pergeseran, dari konten yang ada manfaatnya menjadi kurang
bermanfaat bahkan tidak bermanfaat. Intinya yang terpenting menghibur. Sehingga
banyak tombol like berdatangan. Kalau
memang sedari awal kontennya lawak
sih tidak apa-apa. Memang tujuannya untuk membuat orang lain tertawa. Bahkan
yang cukup parah sekarang, banyak konten prank
atau menjahili orang bertebaran di mana-mana.
Kalau
mengenai konten prank ini sih bagi
penulis secara pribadi boleh-boleh saja. Asalkan tidak berlebihan bahkan sampai
membuat orang lain tersinggung. Apa lagi sampai membuat orang yang kita prank itu merasa dibully. Menurut
penulis hal seperti itu tidak manusiawi sekali sih. Bagi penulis, membuat
konten prank seperti itu todak
terpuji. Apa lagi yang melihat channel
Youtube rata-rata juga anak-anak dibawah usia 18 tahun. Mereka bisa saja meniru
apa yang ada di konten yang tidak terpuji itu.
Sebaiknya,
apa yang harus kita lakukan? Mengutip dari artikel di atas, sebaiknya konten
kreator seyokyanya lebih berpikir tentang sejauh mana konten tersebut dapat
berdampak. Tidak hanya memuaskan kecanduan dopamin dari tombol like. Terutama bagi mereka para konten
kreator yang memiliki banyak pengikut. Dari anak kecil, generasi milenial, sampai khalayak umum, tentunya
kita tidak ingin konten seperti itu memberikan dampak negatif bagi masa depan
mereka. Akhirnya, adalah tidak salah bila kita berburu like. Yang salah adalah ketika kulaitas konten menurun, namun like tetap bahkan semakin bertambah
banyak. Bukan candu dopamin dari tombol like
yang paling utama, tetapi candu dopamin karena telah bermanfaat bagi sesama.
Melalui konten yang berkualitas itu yang terutama.
Nah,
kalau hal ini penulis sangat setuju. Lebih baik membuat konten yang bermanfaat
dan berguana untuk semua orang selain konten yang menghibur. Inilah candu
dopamin yang baik. Bukan kaena candu dopamin tombol like, tetapi candu dopamin karena berguna dan bermanfaat bagi orang
lain. Tetap semangat memuat konten yang berkualitas wahai para konten kreator.
Bagi kalian para penulis lain, sadarkah kalian bahwa kita kalian juga seorang
konten kreator? Konten kreator kalian adalah berupa tulisan. Maka dari itu,
tetaplah kalian membuat tulisan-tulisan yang bermanfaat. Jangan berhenti
berkarya hanya karena tidak ada yang menekan tombol like.
Sumber:
Comments
Post a Comment