Kecanduan Dopamin Dari Tombol Like

 

Gambar: Ilustrasi mengumpulkan like di media sosial

Sumber: https://www.kompasiana.com/horassimanjuntak/5f002ba0097f366d0b60d683/candu-dopamin-dari-tombol-like?page=all

 

            Sebuah artikel online yang ditulis oleh Y. Edward Horas S berjudul “Candu Dopamin dari Tombol Like”, membuat penulis berpikir dan bertanya-tanya sebegitu berbahanya kah tombol like yang berada di sosial media? Kalau boleh jujur, penulis adalah seorang kreator YouTube yang masih noob, yang masih harus banyak belajar untuk dapat mengembangkan sebuah channel YouTube. Namun, penulis sendiri masih bingung, apa sih pentingnya tombol like yang ada di sosial media?

            Mengutip dari artikel yang penulis baca di atas, bagi konter kreator, tombol like menjadi pusat perhatian. Dari hari semenjak konten tersiar ke publik, beralih kepada hari-hari berikutnya, pertambahan akan jumlah like pasti tidak pernah lepas dari pantauan. Selalu dipantengi, dan berguman dalam hati, “laku kagak karya gw?”. Oke, kalau boleh jujur, untuk saat ini sebagai konten kreator, penulis sendiri masih belum memprhatikan like dan dislike yang ada di channel YouTube penulis sendiri. Fokus penulis terdapat pada jam kerja dan Subscribe penulis di channel YouTube penulis karena masih awal. Bagi penulis, tombol like dan dislike masih belum berpengaruh. Kalau tombol share itu sangat berpengaruh bagi penulis karena bagi penulis itu menunjukkan bahwa penikmat itu suka dengan konten yang penulis buat di channel YouTube penulis dan penikmat ini ingin membagi kesenangannya kepada teman, saudara, atau kerabatnya. Sehingga, konten yang dibuat penulis itu menjadi viral. Lagipula bagi penulis, tombol like dan dislike adalah hak setiap penikmat di sosial media.

            Lalu, apa masalahnya? Mengutip dari artikel yang penulis baca di atas, hal ini karena viral yang disebabkan like bisa mendatangkan banyak manfaat. Mulai dari ketenaran, mempunyai banyak teman, dan terutama memperkaya pundi-pundi bagi mereka. Disini, muncul sebuah pertanyaan di kepala penulis, bukankah tombol like dan dislike itu hanya berfungsi sebagai petunjuk bahwa penikmat suka atau tidak dengan karya yang kita buat? Lagipula, ada tuh konten di YouTube sebelah yang dislike-nya banyak tapi malah tenar atau viral. Kalau boleh jujur bagi penulis sendiri yang membuat sebuah konten menjadi viral adalah banyaknya orang yang latah atau men-share sebuah konten atau karya seseorang.

            Lalu, apa hubungannya dengan dopamin? Mengutip dari artikel yang penulis baca di atas, disaat inilah hormon dopamin yang dipicu dari pertambahan massal tombol like mulai diproduksi oleh tubuh. Hormon dopamin adalah salah satu hormon kebahagiaan yang membuat kita senang dan bahagia dalam menjalani kehidupan. Karena manfaat inilah, maka banyak orang yang suka dengan banyaknya like, bahkan sampai kecanduan. Kecanduan dopamin.

            Lalu, apa yang terjadi jika kita sudah kecanduan dopamin? Mengutipdari artikel di atas, alih-alih mengembangkan kreatifitas dalam konten, perjuangan dalam mencari like ini menjadi lebih dipentingkan. “Yang penting viral” mungkin yang dipikirkan oleh mereka. Mulailah terjadi pergeseran, dari konten yang ada manfaatnya menjadi kurang bermanfaat bahkan tidak bermanfaat. Intinya yang terpenting menghibur. Sehingga banyak tombol like berdatangan. Kalau memang sedari awal kontennya lawak sih tidak apa-apa. Memang tujuannya untuk membuat orang lain tertawa. Bahkan yang cukup parah sekarang, banyak konten prank atau menjahili orang bertebaran di mana-mana.

            Kalau mengenai konten prank ini sih bagi penulis secara pribadi boleh-boleh saja. Asalkan tidak berlebihan bahkan sampai membuat orang lain tersinggung. Apa lagi sampai membuat orang yang kita prank itu merasa dibully. Menurut penulis hal seperti itu tidak manusiawi sekali sih. Bagi penulis, membuat konten prank seperti itu todak terpuji. Apa lagi yang melihat channel Youtube rata-rata juga anak-anak dibawah usia 18 tahun. Mereka bisa saja meniru apa yang ada di konten yang tidak terpuji itu.

            Sebaiknya, apa yang harus kita lakukan? Mengutip dari artikel di atas, sebaiknya konten kreator seyokyanya lebih berpikir tentang sejauh mana konten tersebut dapat berdampak. Tidak hanya memuaskan kecanduan dopamin dari tombol like. Terutama bagi mereka para konten kreator yang memiliki banyak pengikut. Dari anak kecil, generasi milenial, sampai khalayak umum, tentunya kita tidak ingin konten seperti itu memberikan dampak negatif bagi masa depan mereka. Akhirnya, adalah tidak salah bila kita berburu like. Yang salah adalah ketika kulaitas konten menurun, namun like tetap bahkan semakin bertambah banyak. Bukan candu dopamin dari tombol like yang paling utama, tetapi candu dopamin karena telah bermanfaat bagi sesama. Melalui konten yang berkualitas itu yang terutama.

            Nah, kalau hal ini penulis sangat setuju. Lebih baik membuat konten yang bermanfaat dan berguana untuk semua orang selain konten yang menghibur. Inilah candu dopamin yang baik. Bukan kaena candu dopamin tombol like, tetapi candu dopamin karena berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Tetap semangat memuat konten yang berkualitas wahai para konten kreator. Bagi kalian para penulis lain, sadarkah kalian bahwa kita kalian juga seorang konten kreator? Konten kreator kalian adalah berupa tulisan. Maka dari itu, tetaplah kalian membuat tulisan-tulisan yang bermanfaat. Jangan berhenti berkarya hanya karena tidak ada yang menekan tombol like.

Sumber:

https://www.kompasiana.com/horassimanjuntak/5f002ba0097f366d0b60d683/candu-dopamin-dari-tombol-like?page=all

 

Comments

Popular Posts