Alasan Hoaks “Rush Money” Berbahaya Dan Cara Menanggapi Hoaks

 

Gambar: Ilustrasi Upah Uang Rupiah

Sumber: https://www.kompasiana.com/adica.wirawan/5f029c2c097f361921226092/mengapa-hoax-rush-money-begitu-berbahaya?page=all

 

            Berita mengenai “Rush Money” yang dulu pernah meresahkan masyarakat dan menghebohkan dunia maya akhirnya terkuak. Mengutip dari artikel online dari penulis Adica Wirawan berjudul “Mengapa Hoaks “Rush Money” Begitu Berbahaya?”, beberapa waktu lalu, pihak kepolisian berhasil menangkap dua orang yang disinyalir memprovokasi masyarakat untuk menarik semua dananya dari beberapa bank. Meski menyebutka beberapa nama bank di sosial medianya, namun kedua orang itu mengaku bukan nasabah dari bank-bank yang mereka sebutkan. Mereka juga tidak tahu menahu mengenai kondisi keuangan bank-bank yang bersangkutan. Mereka beralasan, hoaks itu diciptakan untuk membuat kepanikan ditengah-tengah masyarakat.

            Hoaks ini sempat viral di sosial media dan membuat pihak Otoritas Jasa Keuangan sampai memberikan klarifikasi menenangkan masyarakat. Beruntuk pihak kepolisian beraksi cepat untuk mencegah penyebaran hoaks tersebut. Hal ini tentu perlu diapresiasi, sebab bila dibiarkan terlalu lama maka akan memberikan efek yang sangat berbahaha. Hal ini disebabkan, hoaks seperti ini dapat berdampak pada ketidakstabilan perekonomian. Apalagi ditengah krisis seperti sekarang ini. Kemunculan hoaks seperti ini dapat memperkeruh keadaan.

Hal ini bukan tanpa alasan. Sebab,”Rush Money” memang dapat menciptakan kerusakan ekonomi yang sangat masif dan sistematik. Bagaimana bisa sesuatu sekecil berita hoaks dapat menyebabkan kerusakan ekonomi yang sangat besar? Untuk mengetahui hal ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu cara kerja sebuah bank. Mengutip dari artikel yang penulis baca di atas, bisnis yang dijalankan oleh bank sebenarnya cukup sederhana, yakni menghimpun dana dari masyarakat lalu menyalurkannya sebagai kredit kepada orang yang membutuhkan pinjaman. Bank kemudian mendpatkan keuntungan dari bunga pinjaman yang diberikan tadi.

Dalam mengelola kredit, manajemen bank harus menerapkan asas kehati-hatian. Kalau sembarangan memberikan hutang kepada banyak orang, maka akan banyak kredit macet yang terjadi dan hal itu tentu saja akan merugikan pihak bank. Untuk mengantisipasi banyak kredit yang susah ditagih, maka bank harus memiliki modal inti yang kuat. Modal inilah yang akan “mem-backup” kerugian akibat banyaknya kredit yang macet. Sehingga dana yang disimpan nasabah tetap utuh. Asalkan bank memiliki modal inti yang melimpah, maka sebetulnya nasabah bisa tetap bersikap tenang. Meskipun situasi ekonomi sedang tidak kondusif seperti sekarang. Hanya saja, kondisi ini dapat berlaku bila tidak terjadi “Rush Money”.

Jika “Rush Money” menyerang sebuah bank, maka sebesar apapun modal inti yang dimiliki bank tersebut bisa susah mencairkan semua dana nasabah. Hal ini dapat dimaklumi karena bank harus menunggu pelunasan kredit yang sudah terlebih dahulu agar bisa “mengembalikan” uang nasabahnya. Pelunasan kredit ini jelas memakan banyak waktu. Sebab, banyak debitur yang belum tentu sanggup membayar hutangnya dalam waktu cepat. Akibatnya, ketika mengalami “Rush Money”, maka bank biasanya tidak dapat segera mencairkan uang nasabahnya.

Hal ini tentu dapat membuat nasabah menjadi emosi dan melampiaskannya di sosial media. Sehingga dapat memicu kereshan masyarakat. Bisa-bisa, masyarakat lain yang kebetulan membaca emosi nasabah yang sulit menarik uangnya di sosial media juga ikut-ikutan menarik uangnya dari bank lain demi mengamankan dananya. Kalau hal itu sampai terjadi, maka bisa saja akan banyak bank yang kolaps.

Kejatuhan perbankan tentu saja akan merugikan semua pihak. Mulai dari kariyawan yang terpaksa di PHK. Debitur yang susah untuk meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan harian dan menjalankan bisnis. Investor yang investasinya merugi akibat kejatuhan harga saham. Hingga Negara yang masuk kejurang resesi. Singkatnya, krisis di sektor perbankan mempu menciptakan “Efek Domino” yang berdampak secara luas. Hal ini menyebabkan terciptanya krisis hebat. Seperti yang terjadi pada tahun 1998 silam. Maka, hoaks tentang “Rush Money” mesti dicegah. Lalu, bagaimana cara mencegahnya?

Untuk itulah, bila menerima berita seperti ini sebaiknya masyarakat bersikap bijak dalam meresponnya. Mengutip dari artikel yang penulis baca di atas, setidaknya ada empat respon yang dapat dilakukan oleh masyarakat bila menerima hoaks demikian, anatara lain sebagai berikut.

1.      Bersikap tenang

Ketenangan jelas diperlukan dalam menghadapi kekrisuhan. Ketika begitu banyak masyarakat yang terprovokasi, maka yang bisa kita lakukan adalah bersikap tenang. Meskipun secara psikologis agak susah dilakukan, namun berusahalah tetap kalem ketika banyak orang sedang rebut. Hal ini penting untuk dilakukan agar kita tidak salah mengambil tindakan yang bisa merugikan diri sendiri.

2.      Mengecek fakta

Sekarang sudah terdapat berbagai situs yang menyedikakan fitur untuk mengecek fakta atas sebuah pemberitaan. Situs ini bisa berasal dari pemerintah atau media arus utama yang memiliki kredibilitas yang baik. Selain itu, bila masih belum yakin, maka kita bisa menghubungi bank terkait untuk memastikan semua baik-baik saja. Klarifikasi demikian bisa membuat kita menjadi lebih tenang dan tahu bahwa berita yang diterima tersebut tidak benar isinya.

3.      Berhenti latah

Kabar buruk bisa cepat viral karena ada banyak orang yang latah menyebarkannya. Hal ini tentu saja berbahaya. Terutama kalau kita asal me-repost kabar tadi ke sosial media atau grup chating tanpa mengecek fakta terlebih dahulu. Hal seperti ini pernah dialami oleh penulis sendiri. Dimana, penulis mendapatkan sebuah berita dan penulis langsung me-repost berita tersebut di grup chating keluarga penulis. Niat hati agar keluarga penulis dapat berhati-hati bila berada di situasi dalam berita itu. Namun penulis lupa bahwa ada salah satu keluarga penulis yang bekerja di tempat yang bisa dikatakan sama dengan bidang yang ada dalam berita yang penulis sebarkan itu. Sehingga, hubungan penulis dengan saudara penulis itu menjadi sedikit renggang. Oleh sebab itu, kalau mendapat berita demikian, maka sebaiknya kita berhenti meneruskan kabar tersebut kepada orang lain.

4.      Melaporkan

Apabila sudah meresahkan, maka kita bisa melaporkan penyebaran hoaks tersebut ke pihak yang berwenang. Pelaporan ini bisa disampaikan via email, DM, atau telepon dengan disertai bukti berupa screenshot atas hoaks tersebut.

            Memastikan kestabilan ekonomi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga tugas masyarakat. Untuk itulah kita mesti bersikap proaktif manakala kita menemukan hoaks yang dianggap bisa mengancam stabilitas ekonomi. Jangan sampai hanya karena membiarkan hoaks menyebar begitu cepat, maka ada banyak pihak yang bakal menderita pada kemudian hari.

Sumber:

https://www.kompasiana.com/adica.wirawan/5f029c2c097f361921226092/mengapa-hoax-rush-money-begitu-berbahaya?page=all

Comments

Popular Posts