Alasan Hoaks “Rush Money” Berbahaya Dan Cara Menanggapi Hoaks
Gambar:
Ilustrasi Upah Uang Rupiah
Berita
mengenai “Rush Money” yang dulu pernah meresahkan masyarakat dan menghebohkan
dunia maya akhirnya terkuak. Mengutip dari artikel online dari penulis Adica
Wirawan berjudul “Mengapa Hoaks “Rush Money” Begitu Berbahaya?”, beberapa waktu
lalu, pihak kepolisian berhasil menangkap dua orang yang disinyalir
memprovokasi masyarakat untuk menarik semua dananya dari beberapa bank. Meski
menyebutka beberapa nama bank di sosial medianya, namun kedua orang itu mengaku
bukan nasabah dari bank-bank yang mereka sebutkan. Mereka juga tidak tahu
menahu mengenai kondisi keuangan bank-bank yang bersangkutan. Mereka beralasan,
hoaks itu diciptakan untuk membuat kepanikan ditengah-tengah masyarakat.
Hoaks
ini sempat viral di sosial media dan membuat pihak Otoritas Jasa Keuangan
sampai memberikan klarifikasi menenangkan masyarakat. Beruntuk pihak kepolisian
beraksi cepat untuk mencegah penyebaran hoaks tersebut. Hal ini tentu perlu
diapresiasi, sebab bila dibiarkan terlalu lama maka akan memberikan efek yang
sangat berbahaha. Hal ini disebabkan, hoaks seperti ini dapat berdampak pada
ketidakstabilan perekonomian. Apalagi ditengah krisis seperti sekarang ini.
Kemunculan hoaks seperti ini dapat memperkeruh keadaan.
Hal ini bukan tanpa
alasan. Sebab,”Rush Money” memang dapat menciptakan kerusakan ekonomi yang
sangat masif dan sistematik. Bagaimana bisa sesuatu sekecil berita hoaks dapat
menyebabkan kerusakan ekonomi yang sangat besar? Untuk mengetahui hal ini, kita
harus mengetahui terlebih dahulu cara kerja sebuah bank. Mengutip dari artikel
yang penulis baca di atas, bisnis yang dijalankan oleh bank sebenarnya cukup
sederhana, yakni menghimpun dana dari masyarakat lalu menyalurkannya sebagai
kredit kepada orang yang membutuhkan pinjaman. Bank kemudian mendpatkan
keuntungan dari bunga pinjaman yang diberikan tadi.
Dalam mengelola kredit,
manajemen bank harus menerapkan asas kehati-hatian. Kalau sembarangan memberikan
hutang kepada banyak orang, maka akan banyak kredit macet yang terjadi dan hal
itu tentu saja akan merugikan pihak bank. Untuk mengantisipasi banyak kredit
yang susah ditagih, maka bank harus memiliki modal inti yang kuat. Modal inilah
yang akan “mem-backup” kerugian akibat banyaknya kredit yang macet. Sehingga
dana yang disimpan nasabah tetap utuh. Asalkan bank memiliki modal inti yang
melimpah, maka sebetulnya nasabah bisa tetap bersikap tenang. Meskipun situasi
ekonomi sedang tidak kondusif seperti sekarang. Hanya saja, kondisi ini dapat
berlaku bila tidak terjadi “Rush Money”.
Jika “Rush Money”
menyerang sebuah bank, maka sebesar apapun modal inti yang dimiliki bank
tersebut bisa susah mencairkan semua dana nasabah. Hal ini dapat dimaklumi
karena bank harus menunggu pelunasan kredit yang sudah terlebih dahulu agar
bisa “mengembalikan” uang nasabahnya. Pelunasan kredit ini jelas memakan banyak
waktu. Sebab, banyak debitur yang belum tentu sanggup membayar hutangnya dalam
waktu cepat. Akibatnya, ketika mengalami “Rush Money”, maka bank biasanya tidak
dapat segera mencairkan uang nasabahnya.
Hal ini tentu dapat
membuat nasabah menjadi emosi dan melampiaskannya di sosial media. Sehingga
dapat memicu kereshan masyarakat. Bisa-bisa, masyarakat lain yang kebetulan
membaca emosi nasabah yang sulit menarik uangnya di sosial media juga
ikut-ikutan menarik uangnya dari bank lain demi mengamankan dananya. Kalau hal
itu sampai terjadi, maka bisa saja akan banyak bank yang kolaps.
Kejatuhan perbankan
tentu saja akan merugikan semua pihak. Mulai dari kariyawan yang terpaksa di
PHK. Debitur yang susah untuk meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan harian dan
menjalankan bisnis. Investor yang investasinya merugi akibat kejatuhan harga
saham. Hingga Negara yang masuk kejurang resesi. Singkatnya, krisis di sektor
perbankan mempu menciptakan “Efek Domino” yang berdampak secara luas. Hal ini
menyebabkan terciptanya krisis hebat. Seperti yang terjadi pada tahun 1998
silam. Maka, hoaks tentang “Rush Money” mesti dicegah. Lalu, bagaimana cara
mencegahnya?
Untuk itulah, bila
menerima berita seperti ini sebaiknya masyarakat bersikap bijak dalam
meresponnya. Mengutip dari artikel yang penulis baca di atas, setidaknya ada
empat respon yang dapat dilakukan oleh masyarakat bila menerima hoaks demikian,
anatara lain sebagai berikut.
1. Bersikap
tenang
Ketenangan jelas
diperlukan dalam menghadapi kekrisuhan. Ketika begitu banyak masyarakat yang
terprovokasi, maka yang bisa kita lakukan adalah bersikap tenang. Meskipun
secara psikologis agak susah dilakukan, namun berusahalah tetap kalem ketika
banyak orang sedang rebut. Hal ini penting untuk dilakukan agar kita tidak
salah mengambil tindakan yang bisa merugikan diri sendiri.
2. Mengecek
fakta
Sekarang sudah terdapat
berbagai situs yang menyedikakan fitur untuk mengecek fakta atas sebuah
pemberitaan. Situs ini bisa berasal dari pemerintah atau media arus utama yang
memiliki kredibilitas yang baik. Selain itu, bila masih belum yakin, maka kita
bisa menghubungi bank terkait untuk memastikan semua baik-baik saja.
Klarifikasi demikian bisa membuat kita menjadi lebih tenang dan tahu bahwa
berita yang diterima tersebut tidak benar isinya.
3. Berhenti
latah
Kabar buruk bisa cepat
viral karena ada banyak orang yang latah menyebarkannya. Hal ini tentu saja
berbahaya. Terutama kalau kita asal me-repost kabar tadi ke sosial media atau
grup chating tanpa mengecek fakta terlebih dahulu. Hal seperti ini pernah
dialami oleh penulis sendiri. Dimana, penulis mendapatkan sebuah berita dan
penulis langsung me-repost berita tersebut di grup chating keluarga penulis.
Niat hati agar keluarga penulis dapat berhati-hati bila berada di situasi dalam
berita itu. Namun penulis lupa bahwa ada salah satu keluarga penulis yang
bekerja di tempat yang bisa dikatakan sama dengan bidang yang ada dalam berita
yang penulis sebarkan itu. Sehingga, hubungan penulis dengan saudara penulis
itu menjadi sedikit renggang. Oleh sebab itu, kalau mendapat berita demikian,
maka sebaiknya kita berhenti meneruskan kabar tersebut kepada orang lain.
4. Melaporkan
Apabila sudah
meresahkan, maka kita bisa melaporkan penyebaran hoaks tersebut ke pihak yang
berwenang. Pelaporan ini bisa disampaikan via email, DM, atau telepon dengan
disertai bukti berupa screenshot atas
hoaks tersebut.
Memastikan
kestabilan ekonomi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga tugas
masyarakat. Untuk itulah kita mesti bersikap proaktif manakala kita menemukan
hoaks yang dianggap bisa mengancam stabilitas ekonomi. Jangan sampai hanya
karena membiarkan hoaks menyebar begitu cepat, maka ada banyak pihak yang bakal
menderita pada kemudian hari.
Sumber:
Comments
Post a Comment