Tugas Pertama Tantangan 41 Hari Menulis
Sutan Takdir Alisjahbana
(Cendekiawan Berdarah Biru)
STA
masih keturunan keluarga kerajaan. Ibunya, Puti Samiah adalah seorang
Minangkabau yang turun temurun menetap di Natal, Sumatera Utara. Puti Samiah
merupakan keturunan Rajo Putih, salah satu raja Kesultanan Indrapura yang
mendirikan kerajaan Lingga Pura di Natal. Dari ibunyalah, STA berkerabat dengan
Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia. Ayahnya, Raden Alisyahbana
bergelar Sutan Arbi, ialah seorang guru. Kakek STA dari garis ayah, Sutan
Mohamad Zahab, terkenal sebagai seorang yang memiliki pengetahuan agama dan
hukum yang luas. Di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan
terbuang begitu saja oleh STA ketika beliau masih kecil.
STA
menikah dengan tiga orang istri dan dikaruniai sembilan orang putra dan putri.
Istri pertamannya adalah Raden Ajeng Rohani Daha (menikah tahun 1929 dan wafat
pada tahun 1935) yang masih berkerabat dengan STA. Dari R.A Rohani Daha, STA
dikaruniai tiga orang anak, yaitu Samiati Alisjahbana, Iskandar Alisjahbana,
dan Sofyan Alisjahbana. Tahun 1941, STA menikah dengan Raden Roro Sugiarti
(wafat tahun 1952) dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Mirta Alisjahbana dan
Sri Artaria Alisjahbana. Dengan istri terakhirnya, Dr. Margaret Axel (menikah
1953 dan wafat 1994), STA dikaruniai empat orang anak, yaitu Tamalia
Alisjahbana, Marita Alisjahbana, Marga Alisjahbana, dan Mario Alisjahbana.
Putra
sulungnya, Iskandar Alisjahbana, pernah menjabat sebagai Rektor ITB serta
mertua dari Menteri Perencana Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada Kabinet
Indonesia Bersatu II, Armida Alisjahbana. Iskandar juga dikenal sebagai “Bapak
Sistem Komunikasi Satelit Palapa”. Sofyan dan Mirta Alisjahbana merupakan
pendiri majalah Femina Group.
STA
sangat menghormati wanita. Beliau mengatakan bahwa wanita adalah motor
penggerak dan pendukung dibalik kesuksesan seorang laki-laki.
Kabarnya
ketika kecil, STA bukan seorang kutu buku, dan lebih senang bermain-main
diluar. Mula-mula, STA bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School) di
Bengkulu (1915-1921). Kemudian melanjutkan sekolahnya di Kweekschool, Bukit
Tinggi, Lahat, Muara Enim (1921-1925). Kemudian melanjutkan di Hogere
Kweekschool, Bandung (1925-1928). Disaat itulah, STA seringkali menempuh
perjalanan selama tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatera setiap kali
beliau mendapat liburan. Pengalaman ini bisa terlihat dari cara beliau
menuliskan karakter Yusuf di salah satu bukunya yang paling terkenal: Layar
Terkembang.
Pada
tahun 1931-1933, STA masuk ke Hoofdakte Cursus di Jakarta yang merupakan sumber
kualifikasi tertinggi bagi guru di Hindia Belanda pada saat itu. Kemudian di
Rechtschogeschool di Jakarta. Pada tahun 1942, STA mendapat gelar Meester in de
rechten (Sarjana Hukum). STA juga mengikuti kuliah-kuliah tentang ilmu bahasa
umum, kebudayaan Asia, dan filsafat. Beliau menerima gelar Dr. Honoris Causa
dari Universitas Indonesia (1979) dan University Sains, Penang Malaysia (1987).
Karirnya
beranieka ragam dari bidang sastra, bahasa, dan kesenian. STA pernah menjadi
redaktur Panji Pustakan dan Balai Pustaka (1930-1933). Kemudian mendirikan dan
memimpin majalah Poedjangga Baroe (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa
Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di
Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di
Universitas Indonesia (1946-1948). Pernah menjadi guru besar Bahasa Indonesia
Filsafat Kesusastraan, dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta
(1950-1958). Pernah juga menjadi guru besar Tata Bahasa Indonesia di
Universitas Andalas, Padang (1956-1958). Dan yang terakhir pernah menjadi guru
besar dan ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur
(1963-1968).
Sebagai
anggota Partai Sosialis Indonesia, STA pernah menjadi anggota parlemen
(1945-1949), anggota komite Nasional Indonesia dan anggota Konstituante
(1950-1960). Selian itu, beliau menjadi anggota Societe de linguistique de
Paris (sejak 1951), anggota Commite of Directors of the International
Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959), anggota Board of Directors
of the Study Mandkind, AS (sejak 1968), anggota World Futures Studies
Federation, Roma (sejak 1974) dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor
Taal, Land en Volkenkunde, Belanda (sejak 1976). Beliau juga pernah menjadi
Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994). Pernah
juga menjadi pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya (1979-1994), dan Direktur
Balai Seni Toyabungkah, Bali (1994).
STA
merupakan salah satu tokoh pembaharuan Indonesia yang berpandangan liberal.
Berkat pemikirannya yang cenderung pro-modernisasi sekaligus pro-Barat, STA
sempat berpolemik dengan cendekiawan Indonesia lainnya. STA sangat gelisah
dengan pemikiran cendekiawan Indonesia yang anti-materialisme,
anti-modernisasi, dan anti-Barat. Menurut beliau, bangsa Indonesia haruslah
mengejar ketertinggalannya dengan mencari materi, modernisasi pemikiran, dan belajar
ilmu-ilmu Barat.
Dalam
kedudukannya sebagai penulis ahli dan kemudian sebagai Ketua Komisi Bahasa
selama kependudukan Jepang, STA melakukan modernisasi Bahasa Indonesia sehingga
dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa. Beliau yang
pertama kali menulis Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) dipandang dari
segi Indonesia, yang mana masih dipakai sampai sekarang. Serta Kamus Istilah
yang berisikan istilah-istilah baru yang dibutuhkan oleh Negara baru yang ingin
mengejar modernisasi dari berbagai bidang. Setelah Kantor Bahasa tutup pada
akhir Perang Dunia kedua, beliau tetap mempengaruhi perkembangan Bahasa
Indonesia melalui majalah Pembina Bahasa yang diterbitkan dan dipimpinnya.
Sebelum kemerdiekaan, STA adalah pencetus Kongres Bahasa Indonesia pertama di
Solo. Pada tahun 1970, STA menjadi Ketua Pembina Bahasa Indonesia dan inisiator
Konferensi Pertama Bahasa-Bahasa Asia tentang The Modernization of The
Languages in Asia (29 September-1 Oktober 1967).
Selain
itu, STA merupakan tokoh terkemuka dalam sejarah kesusastraan dan pemikiran
kebudayaan di Indonesia. Beliau banyak menulis puisi, novel, esai-esai sastra,
bahasa serta tulisan-tulisan ilmiyah mengenai filsafat, ilmu-ilmu sosial dan
kemanusiaan. Beliau juga menaruh minat pada sejarah intelektual Islam,
khususnya pemikiran Ibn Rusyd dan menjelang akhir hayatnya kepada Mohammad
Iqbal.
Kiprahnya
di dunia sastra dimulai dengan tulisannya Tak Putus Dirundung Malang (1929).
Disusul dengan karyanya yang lain, yaitu Diam Tak Kunjung Padam (1932), Layar
Terkembang (1936), Anak Perawan Di Sarang Penyamun (1941), Grotta Azzura
(1970), Tebaran Mega, Kalah Dan Menang (1978), Puisi Lama (1941), dan Puisi
Baru (1946).
Dalam
novel Layar Terkembang yang sudah beberapa kali dicetak ulang, STA menuangkan
gagasannya dalam memajukan masyarakat. Terutama gagasan memajukan peranan kaum
wanita melalui tokoh Tuti sebagai wanita Indonesia yang berpikiran maju yang
aktif dalam pergerakan wanita.
Diantara Karya-Karyanya: 1. Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)
2. Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)
3. Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
4. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
5. Layar Terkembang (novel, 1936)
6. Anak Perawan Di Sarang Penyamun (novel, 1940)
7. Puisi Lama (bunga rampai, 1941)
8. Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
9. Pelangi (bunga rampai, 1946)
10. Pembimbing Ke Filsafat (1946)
11. Dari Perjuangan Ke Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
12. The Indonesian language and literature (1967)
13. Revolusi Masyarakat Dan Kebudayaan Di Indonesia (1966)
14. Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)
15. Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)
16. Vaules as integrating vorces in personality, society and culture (1974)
17. The failure of modern linguistics (1976)
18. Perjuangan Dan Tanggung Jawab Dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
19. Dari Perjuangan Dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia Dan Bahasa Malaysia Sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)
20. Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat Dari Segi Nilai-Nilai (1977)
21. Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
22. Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman Dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978)
23. Kalah Dan Menang (novel, 1978)
24. Menuju Seni Lukis Lebih Berisi Dan Bertanggung Jawab (1982)
25. Kelakuan Manusia Di Tengah-Tengah Alam Semesta (1982)
26. Sociocultural creativity in the converging and restructuring process of the emerging world (1983)
27. Kebangkitan: Suatu Drama Mitos Tentang Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)
28. Perempuan Di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)
29. Seni Dan Sastra Di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat Dan Kebudayaan (1985)
30. Sajak-Sajak Dan Renungan (1987)
31. Pemikiran Islam Dalam Menghadapi Globalisasi Dan Masa Depan Umat Manusia (1992)
Sebagai editor:
1. Kreativitas
(kumpulan esai, 1984)2. Dasar-Dasar Kritis Semesta Dan Tanggung Jawab Kita (kumpulan esai, 1984)
Sebagai penerjemah:
1. Nelayan
Di Laut Utara (karya Pierre Loti, 1944)2. Nikudan Korban Manusia (karya Tadayoshi Sakurai; terjemahan bersama Soebadio Sastrosatomo,1944)
Penghargaan:
1. Tahun
1970, STA menerima Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI2. STA adalah pelopor dan tokoh sastrawan “Pujangga Baru”
3. Honorary Member of Koninklijk Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde, Netherlands (1976)
4. The Order of the Sacred Treasure, Gold and Silver from The Emperor of Japan (1987)
5. Doktor Kehormatan dari School For Oriental And African Studies London 2 Mei 1990
6. DR.HC dari Universitas Indonesia
7. DR.HC dari Universitas Sains Malaysia
STA menghabiskan masa tuanya di rumah, di Indonesia. Rumahnya sangat asri dan penuh dengan tanaman dan pepohonan. STA membiarkan hewan-hewan ternaknya berkeliaran di belakang halaman rumahnya yang luas, seperti angsa dan ayam. STA mengisi waktu luangnya dengan membaca dan menulis, serta berenang di kolem renang yang dibuat oleh anak-anaknya untuk menjaga kesehatan tubuh.
Samapai akhir hayatnya, beliau belum mewujudkan cita-cita terbesarnya, yakni menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kawasan di Asia Tenggara. Beliau kecewa, Bahasa Indonesia semakin surut perkembangannya. Padahal, bahasa itu pernah menggetarkan linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara. Beliau kecewa, bangsa Malaysia, Sungapura, Brunai Darussalam, sebagian Filipina, dan Indonesia sebagai penutur Bahasa Melayu gagal mengantarkan bahasa itu kembali menjadi bahasa pengantar kawasan.
SUMBER REFERENSI:
Comments
Post a Comment