Tugas Kedua Tantangan 41 Hari Menulis



Goenawan Mohamad
(Sang Jurnalis Pembela Keadilan)Goenawan Muhammad 3.jpg


      Goenawan Mohamad (Goenawan Soesatyo Mohamad) lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Beliau adalah jurnalis dan sastrawan Indonesia terkemuka. Beliau adalah salah satu pendiri Mjalah Tempo. Beliau merupakan adik Kartono Mohamad, seorang dokter yang menjabat sebagai ketua IDI. Dalam Periodeisasi Sastra Indonesia, beliau dikelompokkan ke dalam sastrawan angkatan 1966-1970an.
       Goenawan adalah seorang intelektual yang memiliki pandangan yang liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan adalah pemikiran monodimensional.
       Sejak di kelas 6 SD, beliau mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian kakaknya yang seorang dokter, Kartono Mohamad, ketika itu berlangganan majalah Kisah asuhan H.B Jassin. Beliau menulis sejak usia 17 tahun dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson.
       Goenawan yang biasa dipanggil Goen, belajar psikologi di Universitas Indonesia, ilmu politik di Belgia, dan menjadi Niemen Fellow di Harvand University, Amerika Serikat. Beliau juga pernah mendapatkan penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Niemen Foundation pada tahun 1997. Secara teratur, selain menulis Catatan Pinggir untuk Majalah Tempo, beliau juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun, Tokyo.
       Pendiri sekaligus mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Beliau ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di media umum. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua orang anak.
        Karier Goenawan dimulai dari Redaktur Harian KAMI (1969-1970), Redaktur Majalah Horison (1969-1974), Pemimpin redaksi Majalah Ekspres (1970-1971), Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985).
      Pada tahun 1971, Goenawan beserta rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Disana, beliau banyak menulis tentang agenda-agenda politik Indonesia. Jiwa kritisnya membawa beliau untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada saat itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehinggapa Tempo diberhentikan penerbitannya pada tahun 1994.
      Awalnya, Goenawan berharap bisa membangkitkan lagi Tempo lewat PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), dimana beliau menjadi salah satu anggotanya. Setelah PWI yang terkooptasi rezim Soeharto, PWI tak bisa lagi diandalkan. Goenawan kemudian mendukung inisiatif para jurnalis muda idealis yang mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Beliau juga mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI), yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga melakukan pelatihan bagi para jurnalis untuk membuat surat kabar yang professional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap Majalah Mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.
       Majalah Tempo kembali terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998. Berbagai perubahan dilakukan, seperti menambah jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tak lama kemudian, Tempo memperluas usahany dengan menerbitkan surat kabar harian Koran Tempo. Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tommy Winata. Pernyataan Goenawan pada tanggal 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik pemimpin Artha Graha itu.
      Selepas menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan berhenti menjadi wartawan. Bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel, beliau membuat libretto untuk Opera Kali pada tahun 2003. Bersama dengan Tony, beliau membuat sebuah konser yang diberi nama The King’s Witch yang dipentaskan pertama kali di Seattle pada tahun 2000, yang kedua di New York. Pada tahun 2006, beliau bersama Tony membuat sebuah konser dengan puisi-puisinya yang diberi nama Pastoral yang dipentaskan di Tokyo. Pada tahun ini juga beliau mengerjakan teks untuk drama-tari Kali-Yuga bersama koreografer wayan Dibya dan panri Ketut beserta Gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California.
     Beliau juga ikut dalam seni pertunjukan di dalam negeri. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, Goenawan membuat teks drama wayang kulit yang dimainkan Dalang Sudjiwo Tedjo, yang diberi judul Wisanggeni, dan Dalang Slamet Gundowo, yang diberi judul Alap-Alapan Surtikanti, dan drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo.
      Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan yang membuat berbagai karya yang sudah diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971) yang diterjemahkan dalam bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Perancis. Sebagian esainya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Maling Kundang (1972), Seks, Sastra, Dan Kita (1980). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan popular adalah Catatan Pinggir (Caping), sebuah artikel mingguan yang dimuat di halaman paling belakang Majalah tempo. Konsep dari Caping adalah sekadar sebuah komentar atau kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Caping mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya pada tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.
      Catatan Pinggir, esai pendeknya setiap minggu untuk Majalah Tempo, diantaranya terbit dalam terjemahan bahasa Inggris oleh Jennifer Lindsay, dalam Sidelines dan Conversations with Difference. Kritiknya diwarnai oleh keyakinan Goenawan bahwa tak pernah ada yang final dalam manusia. Kritik yang, meminjam satu bait dalam sajaknya, “dengan raung yang tak terserap karang”.
     Kumpulan esainya berturut-turut: Potret Seorang penyair Muda Sebagai Si Maling Kundang (1972), Seks, Sastra, Kita (1980), Kesusastraan Dan kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata Waktu (2001), Eksotopi (2002).
      Sajak-sajaknya dibukukan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita Di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Terjemahan sajak-sajak pilihannya dalam bahasa Inggris oleh Laksmi Pamuntjak terbit dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).
         Setelah pembredelan Majalah Tempo, beliau mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi), sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen, serta sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan berekspresi. Secara sembunyi-sembunyi, antara lain di jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Utan Kayu 68H bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu.
        Dari ikatan inilah lahir Tearer Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan yang terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran, yang meskipun tak bergabung dalam satu badan, bersama-sama disebut “Komunitas Utan Kayu”. Semuanya meneruskan cita-cita yang tumbuh dalam perlawanan terhadap pemberangusan ekspresi. Goenawan juga ikut andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.
      Tahun 2006, Goenawan mendapatkan anugrah sastra Dan David Prize, bersama esais dan pejuang kemerdekaan Polandia, Adam Michnik, dan musical Amerika, Yo-yo-Ma. Tahun 2005, beliau dan seorang wartawan Joesoef Ishak dapat Wertheim Award.
       Pada tahun 2007, Goenawan menulis buku yang berjudul Tuhan Dan Hal-Hal Yang Tak Selesai, berisi 99 esai lirik pendek, dimana edisi bahasa Inggrisnya berjudul On God And Other Unfinished Things diterjemahkan oleh Laksmi Pamuntjak.
     Hingga kini, selain menulis Goenawan juga banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber, maupun peserta. Salah satunya, beliau mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada tahun 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumahnya.
SUMBER REFERENSI:

Comments

Post a Comment

Popular Posts