Tugas Ketiga Tantangan 41 Hari Menulis
Klara Akustia
(Topeng Sang Penyair Romantis)
Mungkin sebagian dari kalian
tidak mengenal siapa Klara Akustia. Karena pada kenyataanya, Klara Akustia
tidak pernah ada. Nama Klara Akustia adalah nama pena dari seorang sastrawan
yang bernama asli Adi Sidharta
Adi
Sidharta atau A.S Dharta lahir di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, 7 Maret 1924.
Beliau meninggal di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, 7 Februari 2007 pada usia 82
tahun. Beliau adalah sastrawan Indonesia. Selain Klara Akustia, beliau memiliki
nama pena lain, seperti Kelana Asmara, Jogaswara, Rodji, Barmara Poetra, dan
masih banyak lagi.
Jiwanya
bergejolak sejak menjadi anak angkat Okayaman, seorang tokoh pergerakan yang
dibuang ke Boven Digul, dan makin dimatangkan setelah bersekolah di Nationaal
Handele Lallegiun (NHL) di bawah didikan Douwes Dekker. Pada masa revolusi,
beliau bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan bermarkas di
Menteng 31, keluar-masuk hutan, bergerak dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran yang lain.
Di Menteng 31 inilah beliau mengelal Soekarno, sejumlah tokoh politik, dan para
seniman-seniman.
Beliau
pernah menjadi wartawan Harian Boeroeh di Yogyakarta. Beliau mempin serikat
buruh: Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, Serikat Buruh Pelabuhan
(termasik di induknya), Setral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Lalu
mematangkan bakatnya lewat International Union of Students (IUS), World
Federation of Democratic Youth, dan World Federation of Trade Unions, yang
membuatnya berkeliling seluruh negara-negara bekas kolonialisme.
Bersama
M.S Azhar dan Njoto, A.S Dharta mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)
pada 17 Agustus 1950 dan menjadi Sekretasis Jenderal (Sekjen) pertamanya.
A.S
Dharta masuk penjara di Kebonwaru pada tahun 1966-1978.
Puisi,
esai, kritik sastra, dan catatan perjalannya tercecer di sejumlah media dalam
maupun luar negeri, serta masuk dalam antologi bersama.
Beliau
juga pernah berkolaborasi dengan Amir Pasarubi yang pada tahun 2006 mendapat
penghargaan Akademi Jakarta untuk bidang musik, menghasilkan antara lain lagu
“Irama Mei”.
Hasil karya:
1. Saidjah
Dan Adinda (naskah drama, adaptasi novel karya Multatuli yang diterjemahkan
oleh Bakri Seregar)
2. Rangsang
Detik (kumpulan sajak, 1957)
Pada
dasarnya, Dharta adalah orang yang romantis. Hal ini Nampak diantaranya dari
nama-nama pena beliau sering digunakan. Pada masa revormasi, ketika beliau
masih menulis sajak dalam Majalah Gelombang Zaman yang terbit di Garut dipimpin
oleh Achdiat K. Mihardja dengan Tatang Sastrawiria, beliau menggunakan nama
Kelana Asmara. Entah Kelana yang mencari Asmara, entah Asmara yang berkelana.
Kemudian,
beliau menggunakan nama Klara Akustia. Ada yang bilang, nama Klara Akustia
berasal dari bahasa Rusia yang artinya “mempunyai hubungan rasa simpati”. Asrul
Sani pernah mengatakan bahwa nama Klara Akustia diambil Dharta dari nama
Hongaria. Namun pernyataan tersebut keliru. Nama Klara Akustia digunakan Dharta
setelah ditinggalkan lari oleh istrinya yang sehari-hari selalu beliau panggil
dengan sebutan “Klara”. Istrinya tersebut kabur bersama soerang Serdadu KNIL ke
negerinya. Untuk membuktikan kesetiannya walaupun ditinggal lari dan dihianati
oleh istrinya, maka digunakan nama “Klara Akus(e)tia”.
Peranannya
di dunia sastra cukup menonjol. Hal ini terlihat dari adanya perhatian peminat
sastra untuk menyoroti karya-karyanya. Salah satu kumpulan sajaknya yang
berjudul Rangsang Detik banyak mendapat sorotan. Rangsang Detik, berisi 63
sajak, merekam awal-awal revolusi Indonesia yaitu sekitar tahun 1949 yang
memadukan antara cita-cita dan daya cipta (kreasi). Kumpulan sajak ini bertema
utama masalah-masalah yang berhubungan dengan revolusi sehingga nilai
estetikanya tidak terlalu dipentingkan. Sajak-sajak karya Klara Akustia lebih
banyak yang berbentuk tanggapan terhadap lingkungannya, sebagai anak zaman yang
mematuhi tuntutan zamannya.
Sugiarta
Sriwibawa (1957) menyatakan bahwa sajak-sajak Klara Akustia menggambarkan
persoalan masyarakat sekelilingnya dengan wajar dan sederhana. Sementara itu,
H. Irvan (1957) menyatakan karya-karya Klara Akustia adalah puisi yang
berbentuk melodis, syarat dengan permainan bunyi. Secara keseluruhan
puisi-puisi Klara Akustia berbicara tentang ketidakadilan terhadap rakyat
kecil, serta perjuangan bangsa.
Selain
dimuat dalam antologi, sajak-sajak Klara Akustia juga berada dalam terbitan
lepas. Beberapa puisinya antara lain berjudul:
1. Merdeka
Kami.
2. Kasih
Dan Penjara (dalam siasat, No 240/V, 18 November 1951).
3. Nol
Besar (dalam Spektra, No 51/I, 11 Februari 1950).
4. Buruh
(dalam Tenaga, No 8, 15 Juli 1950).
5. Kepada
Mao Tse-Tung.
6. Kasih
Dan Penyair.
7. Pejuang
8. Taufan
(dalam Bintang Merah, No. 7, Oktober/November 1951).
9. Nyoya
Marsih (dalam Zaman Baru, No. 58/II, 15 November 1951).
10. Merdeka
Kami (dalam Zaman Baru, No. 58/II, 15 November 1951).
11. Api
Dan Mawar (dalam Mimbar Indonesia, No. 6, 23 Februari 1952).
12. Barisan
Dan Bendera (dalam Mimbar Indonesia, No. 17/VI, 24 April 1952).
13. Laguku
(dalam Zaman Baru, No. 81/II, 7 Mei 1952).
14. Nankin
Seratusribu (dalam Harian Rakyat, No. 613/III, 25 Juli 1953).
15. Petik
Gitar.
16. Pada
Manusia yang bekerja.
17. Harapan
(ditulis waktu sakit di RSCM, 13 April 1955).
18. Kongres
Rakyat Kepada Irian Barat, 9 Agustus 1955.
19. Epos
Dasa Warsa Kepada Angkatan 45, 15 Agustus 1955.
20. Petik
Gitar Untuk Kawan Dan Lawan, 25 Agustus 1955.
21. Rakyat
Memilih, 30 Oktober 1955.
22. Surat
BIru Untuk Iramani.
23. Kalibata,
10 November 1955.
24. Pelita
Merah, 4 Januari 1956.
25. Candaspangeran
Kepada Memed Sastrahadiprawira, 13 Januari 1956.
26. Kawan
Aidit, 31 Januari 1956.
27. Pada
Manusia Yang Bekerja Sidang Dewan Dewan Nasional Sobsi Kedua, 23 Februari 1956.
28. DPR
Baru, 5 Maret 1956.
29. Rumah
Liar Kepada DPKS Jakarta, 5 Maret 1956.
30. Wanita
dari Sungai de Laureantis, 30 Maret 1956.
SUMBER REFERENSI:
Comments
Post a Comment