PKM ARTIKEL ILMIAH PEMANFAATAN SITUS SANGIRAN OLEH BPSMP SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH PADA MASA PRAAKSARA

 


PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

 

PEMANFAATAN SITUS SANGIRAN OLEH BPSMP SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH PADA MASA PRAAKSARA

 

BIDANG KEGIATAN

PKM ARTIKEL ILMIAH

 

 

Diusulkan oleh:

Bagas Gifari Eko Saputra                   ;           170731637558            ;     Angkatan 2017

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

MALANG

2020



Pengesahan Pkm Artikel Ilmiah

 

1.             Judul Kegiatan                                         : Pemanfaatan Situs Sangiran Oleh Bpsmp Sebagai Media Pembelajaran

Sejarah Pada Masa Praaksara

2.             Bidang Kegiatan                                      : PKM-AI

3.             Ketua Pelaksana Kegiatan                       

a.             Nama Lengkap                                        : Bagas Gifari Eko Saputra

b.             NIM                                                        : 170731637558

c.             Jurusan                                                    : Sejarah

d.             Universitas                                              : Universitas Negeri Malang

e.             Alamat Rumah/HP                                  : JL. DR. Soetomo No. 71 Jombang/085234421210

f.              Alamat email                                           : bagasgifari07.gmail.com

4.             Anggota Pelaksana Kegiatan   : -

5.             Dosen Pendamping

a.             Nama Lengkap dan Gelar                        : Ulfatun Nafi’ah, M.Pd

b.             NIDN                                                      : 0010118604

c.             Alamat Rumah/No. Telp                         : JL. Semarang No. 05 Malang

                                                                                                                                Malang, 01 Mei 2020

Menyetujui

Wakil Dekan III,                                                     Ketua Pelaksana Kegiatan,

 

 

 

(xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx)                     (xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx)

NIP. 19000000000000000                     NIM. 160000000000000

 

Wakil Rektor III,                                                     Dosen Pendamping,

 

 

(Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., M.Ed.)         (xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx)

NIP. 196108221987031001                   NIDN. 0000000000


Daftar Isi

Pengesahan Pkm Artikel Ilmiah. i

Daftar Isi ii

PEMANFAATAN SITUS SANGIRAN OLEH BPSMP SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH PADA MASA PRAAKSARA.. 1

Bagas Gifari Eko Saputra. 1

Abstrak. 1

PENDAHULUAN.. 2

METODE.. 4

HASIL DAN PEMBAHASAN.. 4

PENUTUP. 7

UCAPAN TERIMAKASIH.. 7

Daftar Pustaka. 8

 

PEMANFAATAN SITUS SANGIRAN OLEH BPSMP SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH PADA MASA PRAAKSARA

 

Bagas Gifari Eko Saputra

 

Abstrak

Upaya peningkatan pemahaman pelajar tentang materi zaman praaksara, khususnya manusia purba dan budayanya, dapat dilakukan dengan menggunakan Situs Sangiran sebagai media pembelajaran. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana Situs Sangiran dapat digunakan sebagai media pembelajaran zaman praaksara, sehingga diharapkan mampu untuk meningkatkan pemahaman pelajar terhadap zaman praaksara paling awal di Indonesia. Melalui Unit Pelaksana Teknis Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Situs Sangiran menawarkan kompleksitas  media  yang  dapat membantu pelajar dalam memperoleh informasi kepurbakalaan. Oleh karena itu, sebagai upaya peningkatan pemahaman pelajar tentang materi zaman praaksara paling awal di Indonesia perlu adanya optimalisasi penggunaan media pembelajaran berupa Situs Sangiran serta kerjasama antara BPSMP Sangiran sebagai pengelola Situs Sangiran dengan pihak sekolah.

Kata kunci: Pemanfaatan, Situs Sangiran, Media pembelajaran

 

Abstract

Efforts to increase students' understanding of pre-literary material, especially early humans and their culture, can be done by using the Sangiran Site as a learning medium. This paper aims to reveal how the Sangiran Site can be used as a medium of pre-literary learning, so that it is expected to be able to increase students' understanding of the earliest pre-literate era in Indonesia. Through the Sangiran Ancient Human Site Site (BPSMP) Technical Implementing Unit, Sangiran Site offers complexities of media that can assist students in obtaining archaeological information. Therefore, as an effort to increase students' understanding of the earliest pre-literary materials in Indonesia, it is necessary to optimize the use of learning media in the form of Sangiran Site as well as cooperation between BPSMP Sangiran as Sangiran Site manager and the school.

Keywords: Utilization, Sangiran Site, Learning media

 

PENDAHULUAN

Sejarah merupakan kejadian atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau yang membawa perubahan dan perkembangan secara berkesinambungan. Sebagai peristiwa, sejarah adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau (past human effect) yang sekali terjadi (einmalig). Oleh karena itu, suatu peristiwa sejarah tidak dapat diulang, karena hanya terjadi pada masa lampau tersebut (Kuntowijoyo, 2001: 03). Hal ini juga berlaku pada masa prasejarah. Zaman prasejarah merupakan pembabakan dalam kepurbakalaan yang diberikan kepada suatu periode ketika manusia belum menggunakan tulisan sebagai alat komunikasi. Istilah prasejarah digunakan untuk menyebutkan periode sejak permulaan munculnya manusia sampai digunakan tulisan sebagai alat komunikasi. Dilihat dari sudut pandang masa kini, batasan prasejarah adalah ketika sudah ditemukan sumber-sumber tertulis yang menjelaskan suatu zaman. Di Indonesia, zaman prasejarah mulai berakhir pada sekitar abad V masehi ketika masyarakat telah mengenal tulisan yang dibuktikan dengan temuan sumber-sumber tertulis. Sebagai ilmu, prasejarah berarti ilmu yang mempelajari manusia serta peradabannya sejak zaman permulaan adanya manusia sampai pada awal zaman sejarah (Soekmono, 1981: 21; Ahmad, 2010: 105).

Zaman prasejarah juga dikenal sebagai zaman praaksara (penulis banyak menggunakan istilah praaksara dalam tulisan ini). Praaksara berasal dari dua kata, yakni pra yang berarti sebelum dan aksara yang berarti tulisan. Dengan demikian, zaman praaksara adalah masa kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan. Ada istilah yang mirip dengan istilah praaksara, yakni istilah nirleka. Nir berarti tanpa dan leka berarti tulisan (Simanjutak dalam Abdullah dan Lapian, 2009: 23). Hal ini karena orang-orang yang hidup pada masa itu belum mengenal tulisan atau huruf latin sepertin yang kita kenal sekarang ini. Namun tidak adanya tulisan bukan berarti tidak ada peninggalan sejarah yang dapat diwariskan untuk generasi mendatang. Para manusia pada masa itu dikenal dengan manusia purba meninggalkan warisan sejarahnya berupa fosil-fosil mereka, peralatan-peralatan mereka, lukisan dan cap tangan di dinding-dinding gua dimana manusia purba ini hidup dan lain sebagainya. Dalam peninggalan-peninggalan mereka itu, kita dapat mengetahui seperti apa kehidupan dan kebudayaan yang mereka lakukan selama mereka masih hidup di dunia ini.

Kita sebagai generasi sekarang, berkewajiban untuk mempelajari warisan yang telah ditinggalkan oleh manusia purba pada saat mereka hidup. Hal ini yang ingin diajarkan dalam pembelajaran sejarah. Walau zaman praaksara merupakan kajian yang bermula sejak munculnya manusia, dalam pengajarannya termuat juga materi tentang keadaan bumi sebelum munculnya manusia sebagai gambaran kondisi kehidupan sebelum manusia (pre-human living). Cakupan materi zaman praaksara meliputi: (1) perkembangan bumi sebelum munculnya manusia, (2) evolusi manusia, (3) kehidupan manusia pada zaman batu, dan (4) kehidupan manusia pada zaman perundagian. Permasalahan yang dikaji pada pokok bahasan evolusi manusia adalah kemunculan dan perkembangan manusia, serta penyebarannya. Di Indonesia, manusia-manusia purba yang terkenal antara lain Meganthropus, Pithecanthropus Mojokertensis, Pithecanthropus Robustus, Homo Erectus, Homo Soloensis, Homo Wajakensis, dan Homo Floresiensis (Poesponegoro dan Notosusanto, 1984: 64-65; Widianto dan Simanjutak, 2013; Widianto, 2016: 11).

Oleh karena cakupannya yang luas dan memiliki rentang waktu sangat panjang itu, upaya pemahaman zaman praaksara merupakan hal yang sulit. Hal ini disebabkan rentangan waktu antara zaman praaksara dan zaman sekarang mencakup waktu ribuan hingga jutaan tahun. Kesulitan inilah yang menyebabkan pelajar mengalami kendala dalam memahami zaman praaksara. Pelajar hanya mengetahui zaman  praaksara  secara abstrak dan belum memahami  zaman  praaksara  secara  menyeluruh.  Para  ahli telah melakukan upaya untuk memahami zaman praaksara melalui penggunaan sumber data primer berupa artefak serta ekofak (fosil dan stratigrafi) melalui analisis arkeologis, geologis, biologis, dan radioaktif. Namun demikian, bagi para pelajar upaya pemahaman materi zaman praaksara dari fosil atau bukti primer lainnya masih memiliki be-berapa kendala. Kendala tersebut adalah (1) barang-barang peninggalan dan sampel penelitian jumlahnya sedikit dan langka, dan (2) keterbatasan pengetahuan pelajar dan mahasiswa dalam menganalisis serta meneliti dengan seksama peninggalan, sumber, dan bukti tersebut (Ahmad, 2010: 106; Pamungkas, 2014: 93).

Salah satu objek wisata sekaligus sebagai situs sejarah pada masa praaksara adalah Situs Sangiran. Situs Sangiran merupakan situs praaksara terlengkap ketiga di dunia. Sekarang, Situs Sangiran dikelola seluruh oleh Unit Pelaksana Teknis Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. BPSMP Sangiran merupakan Unit Pengelola Teknis di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Kebudayaan. Sesuai dengan pasal 2 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 31 tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, BPSMP Sangiran mempunyai tugas melaksanakan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaaan situs manusia purba. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 tersebut, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran di antaranya menyelenggarakan fungsi pelaksanaan pemanfaatan situs manusia purba, yaitu dokumentasi, penyajian koleksi, dan publikasi situs manusia purba. Tugas dan fungsi BPSMP  Sangiran ini, dapat mendukung optimalisasi pemanfaatan Situs dan Museum Manusia Purba     Sangiran    sebagai media pembelajaran masa praaksara bagi pelajar (Rohman, 2018: 137-138).

Dari pernyataan di atas, penulis ingin melakukan penulisan mengenai “Pemanfaatan Situs Sangiran oleh BPSMP sebagai Media Pembelajaran Sejarah pada masa Praaksara”. Dari sini, hal-hal yang menjadi rumusan masalah yang akan dibahas oleh penulis antara lain: (1) bagaimana pemanfaatan Situs Sangiran sebagai media pembelajaran sejarah pada masa praaksara dan (2) bagaimana bagaimana BPSMP membentuk Situs Sangiran menjadi media pembelajaran sejarah pada masa praaksara. Dari rumusan masalah tersebut, tujuan dari penulisan ini antara lain: (1) mengetahui pemanfaatan Situs Sangiran sebagai media pembelajaran sejarah pada masa praaksara dan (2) mengetahui seberapa jauh BPSMP membentuk Situs Sangiran menjadi media pembelajaran sejarah pada masa praaksara.

Penulisan ini bagi penulis memiliki manfaat berguna untuk para pembaca maupun para peneliti yang akan membahas topik yang sama. Manfaat penulisan ini bagi pembaca maupun peneliti adalah untuk memberikan gambaran kepada pembaca maupun peneliti mengenai pemanfaatan Situs Sangiran sebagai media pembelajaran sejarah pada masa praaksara. Berguna mengetahui seberapa jauh BPSMP membentuk Situs Sangiran menjadi media pembelajaran sejarah pada masa praaksara. Dengan bekal pengetahuan ini diharapkan di masa depan masalah mengenai keterbatasan media pembelajaran sejarah pada masa praaksaara dapat dipecahkan.

METODE

Metode yang dilakukan penulis adalah menjaring studi pustaka. Studi pustaka dilakukan berupa referensi tentang konsep, pendekatan yang juga terkait dengan masalah, dan topik penulisan. Penulis mengambil beberapa reverensi dari penulis-penulis atau peneliti-peneliti yang telah melakukan penulisan atau penelitian yang terkait atau memiliki topik yang sama dengna penulis. Penulis juga mengambil reverensi kajian teori dari penulis-penulis sebelumnya. Penulis juga memasukkan argumen penulis mengenai penulisan ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas, atau komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi intruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar (Arsyad, 2011: 03). Peranan media yang lain adalah sebagai alat pengembangan konsep generalisasi serta membantu dalam memberikan pengalaman dari bahan yang abstrak, seperti buku teks, menjadi bahan yang jelas dan nyata (Wibawanto, 2017: 6). Media dalam pembelajaran sejarah memegang peranan dan posisi yang penting. Hal ini karena media membantu dalam menggambarkan dan memberikan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Dengan demikian, untuk mewujudkan keberhasilan pembelajaran sejarah harus dilakukan  penggunaan media pembelajaran yang optimal.

Pada pendidikan tingkat dasar dan menengah, peran media sangat diperlukan, apalagi dalam pengajaran sejarah. Hal ini selain mempermudah guru dalam penyampaian materi, media ber-fungsi untuk mengembangkan kemampuan indera anak didik. Pada tingkat perguruan tinggi media sangat penting bagi mahasiswa dalam pemahaman dan penerimaan informasi. Pelajar dapat mengalami kebingungan atau absurd bila membayangkan jenis manusia purba atau kapak batu apabila hanya dari informasi verbal. Namun pelajar dapat segera mengetahui jenis manusia purba atau kapak batu pada zaman praaksara dengan melihat langsung, atau melalui media gambar dan film. Oleh sebab itu, salah satu media yang dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi zaman praaksara periodisasi awal  di Indonesia adalah Sangiran (Situs purbakala dan Museum Sangiran) (Rohman, 2018: 136).

Dalam ranah pendidikan, BPSMP Sangiran dapat berperan sebagai fasilitator dan media pembelajaran, lewat situs purba dan museum yang dikelolanya. Hubungan Sangiran dengan lembaga pendidikan idealnya mengusung semangat partisipatif. Guru dan siswa di bawah lembaga formal bukanlah merupakan entitas pendidikan yang terpisah dengan Sangiran. Sekolah di satu pihak memiliki kurikulum yang harus dijalankan, sedangkan Sangiran memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai bahan edukasi. Komunikasi keduanya dapat membantu pemenuhan kebutuhan kurikulum dan proses pembelajarannya. Peranan Situs dan Museum Manusia Purba Sangiran sebagai media pembelajaran disebabkan fungsi Situs dan Museum Manusia Purba Sangiran yang dapat memberikan informasi konkret kepada masyarakat dalam hal ini siswa dan guru (Rohman, 2018: 138).

Potensi sumber daya alam dan sumber daya budaya di Situs Sangiran sangat besar. Terdapat keberagaman sosial dan budaya yang dapat dikembangkan disana. Ditambah dengan kemajuan teknologi saat ini mengakibatkan pengembangan media pembelajaran sangat variatif. Pemanfaatannya dapat menunjang pencapaian kurikulum. Dalam pembelajaran, Situs Sangiran merupakan salah satu tempat yang dapat digunakan sebagai sumber informasi kesejarahan. Hal ini karena dalam Situs Sangiran terdapat benda-benda masa praaksara yang dulu pernah digunakan oleh manusia purba. Benda-benda peninggalan itu berfungsi sebagai sarana peningkatan pemahaman terhadap peristiwa sejarah bagi pelajar.

Situs dan Museum Manusia Purba Sangiran dapat digunakan sebagai media pembelajaran dengan menyesuaikan materi pelajaran. Untuk SMA/sederajat, zaman praaksara dimasukkan dalam materi kelas X semester 1 dengan kompetensi dasar yang terkait adalah (1) Menganalisis asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia Melanosoid, Proto, Deutero, dan Melayu, dan (2) Memahami hasil-hasil dan nilai-nilai budaya masyarakat praaksara Indonesia dan pengaruhnya dalam kehidupan lingkungan terdekat. Muatan pelajaran sejarah masa praaksara di SMA tercakup dalam 1 (satu) bab dengan tema pembelajaran menelusuri tentang peradaban awal di Kepulauan Indonesia. Bab ini meliputi sebelum mengenal tulisan, terbentuknya kepulauan Indonesia, mengenal manusia purba, asal usul persebaran nenek moyang Bangsa Indonesia, corak hunian, dan perkembangan teknologi masa praaksara (Gunawan, dkk., 2016: 1-7). Muatan materi matapelajaran sejarah SMA ini dapat menggunakan Situs Sangiran sebagai bagian dari pembelajaran masa praaksara di Indonesia, khususnya terkait pengetahuan manusia purba, budaya, dan lingkungannya.

Situs Sangiran dapat mendukung konstekstual pembelajaran sejarah, khususnya materi praaksara. Kontekstual pembelajaran pada mata pelajaran sejarah yaitu suatu cara yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran sejarah yang dikaitkan dengan masa kini. Ada beberapa cara dalam melakukan kontekstual matapelajaran sejarah menurut Rohman (2018: 140-141), khususnya terkait materi masa praaksara, antara lain sebagai berikut.

            1.      Pemanfaatan lingkungan dan tinggalan arkeologis di Sangiran sebagai sumber belajar

Kontekstual pembelajaran sejarah materi masa praaksara dengan pemanfaatan lingkungan dan tinggalan arkeologis yaitu dengan menggunakan sumber-sumber belajar sejarah dan arkeologi yang ada di lingkungan Situs Sangiran, seperti singkapan lapisan tanah purba yang berusia jutaan hingga ratusan ribu tahun yang lalu, lokasi temuan fosil, atau lingkungan alam yang ada di sekitar Situs Sangiran dan memiliki keterkaitan dengan materi sejarah yang dipelajari. Lingkungan purba dapat pula menunjukkan adanya kehidupan di masa lalu yang terkait dengan masa sekarang. Misalnya perubahan lingkungan di Sangiran dan dampaknya terhadap kehidupan manusia maupun faunanya.  Bahkan juga dari perubahan lingkungan tersebut dapat dilihat bagaimana masyarakat masa lalu berinteraksi  dan beradaptasi dengan lingkungan alam yang dapat dikaitkan dengan pelestarian lingkungan pada masa sekarang.

            2.      Pemanfaatan teknologi informasi tentang masa praaksara yang tersedia di Sangiran

Pemanfaatan teknologi informasi merupakan salah satu cara yang dilakukan agar pembelajaran IPS dan Sejarah menjadi kontekstual dan menarik. Teknologi informasi yang tersedia di Sangiran berupa film tentang manusia purba dan lingkungan Situs Sangiran, perpustakaan digital, teknologi layar sentuh dan hologram tentang manusia purba,  fauna,  budaya, dan lingkungannya. Penggunaan teknologi informasi akan menjadi  kontekstual dengan menampilkan materi praaksara menjadi hidup, seolah-olah hadir pada saat ini dan tidak terjebak pada pengolahan materi yang bersifat verbalistik seperti metode ceramah. Salah satu keunggulan atau nilai lebih Sangiran sebagai media pembelajaran materi praaksara adalah  beragamnya media yang tersedia untuk menjelaskan suatu peristiwa masa lampau. Hal ini memberikan berbagai kemudahan bagi pelajar dalam memahami benda-benda peninggalan masa lampau yang tertulis dalam buku pelajaran IPS maupun sejarah. Kemudahan yang diperoleh pelajar adalah karena di Sangiran telah disediakan berbagai media yang banyak memberikan informasi. Media tersebut dapat berupa model, realita, tabel, poster, sistem multimedia elektronik, bahkan lokasi temuan benda-benda peninggalan masa praaksara.

Di Sangiran, media yang dijadikan sumber  belajar  berupa  sumber  primer  dan sekunder. Sumber primer merupakan benda peninggalan atau jejak-jejak kehidupan, meliputi fosil, artefak, dan ekofak. Di Sangiran, sumber primer ini disediakan dalam wujud asli atau replika, seperti fosil manusia purba (replika), fosil fauna purba (asli), artefak budaya manusia purba (asli), singkapan lapisan tanah purba, dan museum lapangan. Sedangkan gambar atau foto, diorama manusia purba, aktivitas, dan lingkungannya, serta penjelasannya dalam sistem multimedia berbentuk media audiovisual merupakan sumber sekunder yang dapat mendukung pembelajaran masa praaksara (Rohman, 2018: 141).

Materi praaksara di SMA, khususnya tentang manusia purba, budaya, dan lingkungannya juga menjelaskan tentang kemunculan, perkembangan, dan persebaran manusia purba dan budayanya. Pada materi ini, penekanan dilakukan pada manusia-manusia pertama yang ditemukan, khususnya di  Indonesia, sampai pada persebaran dan hasil budayanya. Media yang tersedia di Sangiran, menurut Rohman (2018: 142), yang dapat menjelaskan materi ini antara lain sebagai berikut.

1.      Model dari kerangka temuan manusia purba, berupa replika fosil maupun diorama manusia purba, aktivitas, dan lingkungannya.

2.      Penjelasan tentang perkembangan dan perbandingan antara tengkorak-tengkorak manusia yang tersaji dalam bentuk gambar atau poster infografis.

3.      Bagan tentang proses perubahan dan persebaran manusia.

4.      Peta tentang persebaran manusia purba dan temuan fosilnya

5.      Gambar tentang perbandingan manusia-manusia purba yang telah direkonstruksi,

6.      Poster yang menjelaskan tentang evolusi manusia beserta teori-teorinya.

7.      Koleksi artefak berupa alat batu dan alat tulang peninggalan manusia purba.

8.      Media berupa film maupun layar sentuh (touchscreen) tentang perkembangan manusia purba.

9.      Singkapan tanah purba dan monumen temuan fosil sebagai penanda atau bukti jejak keberadaan manusia masa lampau dan perubahan lingkungannya.

Melalui Situs dan Museum Manusia Purba Sangiran, siswa belajar secara langsung tentang zaman praaksara periodisasi paling awal di Indonesia melalui tinggalan asli seperti fosil dan artefak, lingkungan purba, lokasi temuan, diorama, model, grafis, dan sistem multimedia, sehingga informasi yang didapatkan tidak bersifat verbalistis dan abstrak, tetapi bersifat konkret. Adanya informasi konkret dari media ini, dapat membantu tewujudnya konsep visualisasi, interpretasi, dan generalisasi pelajar terhadap materi zaman praaksara (Ahmad, 2010: 112). Dengan tercapainya tiga aspek tersebut, yaitu visualisasi, interpretasi, dan generalisasi maka pemahaman pelajar terhadap materi zaman praaksara periodisasi awal dapat terwujud.

PENUTUP

Media pembelajaran  merupakan  komponen  penting  yang  dapat  digunakan untuk menunjang efektivitas pembelajaran. Salah satu materi yang diajarkan dalam matapelajaran sejarah adalah materi masa praaksara. Untuk mendukung pemahaman materi praaksara, media pembelajaran yang bersifat kesejarahan merupakan hal yang penting digunakan. Pemanfaatan Situs Sangiran merupakan salah satu cara yang menarik dan informatif dalam mewujudkan pemahaman pelajar tentang  zaman  praaksara,  khususnya  periode  awal zaman praaksara di Indonesia. Hal ini disebabkan Sangiran memiliki beragam media yang memberikan informasi konkret kepada pelajar tentang zaman praaksara. Pemanfaatan lingkungan dan teknologi informasi yang tersedia di Sangiran dapat mendukung pembelajaran sejarah yang konstekstual.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Ibu Ulfatun Nafi’ah selaku dosen penampu matakuliah KKL yang telah memberikan tugas ini kepada penulis sehingga terciptalah sebuah karya berupa PKM-AI yang penulis buat ini. Selain itu ucapan terimakasih penulis aturkan kepada teman-teman yang telah mendukung dan memotivasi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan PKM-AI ini.

Daftar Pustaka

Abdullah, T, & Lapian, A, B. (Ed). 2012. Indonesia dalam Arus Sejarah Volume I: Prasejarah. Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve.

Ahmad, T, A. 2010. Strategi Pemanfaatan Museum Sebagai Media Pembelajaran Materi Zaman Prasejarah. Jurnal Paramita Vol. 20, No. 1. Semarang: UNNES.

Arsyad, A. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Gunawan, R, dkk. 2017. Sejarah Indonesia Edisi Revisi 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikann dan Kebudayaan.

Kuntowijoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Pamungkas, Y, H. 2014. Pemanfaatan Museum Berbasis Kurikulum 2013. Jurnal Arkeologi Indonesia. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Poesponegoro, M, D, & Notosusanto, N. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Volume I: Jaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rohman, M, M. 2018. Pemanfaatan Situs dan Museum Manusia Purba Sangiran Sebagai Media Pembalajaran IPS dan Sejarah bagi Pelajar. (Online) https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpsmpsangiran/wp-content/uploads/sites/11/2019/01/10-JurnalSangiran.pdf. Diakses pada 01 Mei 2020 pukul 02.14 WIB.

Soekmono. 1988. Sejarah Kebudayaan Indonesia I. Yogyakarta: Kanisius.

Wibawanto, W. 2017. Desain dan Pemrograman Multimedia Pembelajaran Interaktif. Jember: Cerdas Ulet Kreatif Publisher. 

Comments

Popular Posts